Skip to content

Pengertian Standarisasi dan 10 Tujuannya Menurut BSN

Pengertian standarisasi adalah produk yang telah berstandar telah memenuhi persyaratan teknis atau sesuatu yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak, pemerintah, atau keputusan internasional yang terkait dengan memperhatikan syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan IPTEK, perkembangan masa kini dan masa depan

Pengertian standarisasi adalah produk yang telah berstandar telah memenuhi persyaratan teknis atau sesuatu yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak, pemerintah, atau keputusan internasional yang terkait dengan memperhatikan syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan IPTEK, perkembangan masa kini dan masa depan. Hal ini sesuai dengan yang tertulis di undang-undang No 20 Tahun 2014 tentang standarisasi dan penilaian kesesuaian.

Pengertian Standarisasi

Dari pengertian standarisasi tersebut dapat dikatakan bahwa produk yang memenuhi standar dapat dipastikan memiliki daya saing ketimbang produk yang tidak atau belum berstandar.

Di konteks internasional, standar dapat didefinisikan sebagai “A document established by consensus and approved by a recognized body that provides for common and repeated use, rules, guidelines or characteristics for activities or their results, aimed at the achievement of the optimum degree of order in a given context (ISO/IEC Guide 2,2004)”.

Dari definisi yang diberikan, maka dapat dikatakan pula produk berstandar telah secara langsung memiliki nilai diferensiasi yang diperlukan produsen dalam strategi memenangkan persaingan di satu pihak dan nilai kualitas yang menjadi satu faktor penting minat beli dan kepuasan konsumen di pihak lainnya.

Namun dalam rangka menuju kesana, patut diakui bahwa bukan hal yang mudah dan sederhana. Pasalnya tiap produk harus melewati standarisasi, yaitu sebuah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan, memilhara, memberlakukan, dan mengawasi standar yang dilaksanakan secara tertib dan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan.

Hal ini berarti bahwa produsen maupun konsumen perlu mempertimbangkan oppurtunity cost dalam mengkonsumsi maupun memproduksi.

Tujuan Standarisasi

Beberapa pakar mengemukakan pendapatnya mengenai tujuan standarisasi. Seperti Swann (2010) mengelompokannya dalam 4 kategori, yakni untuk pengurangan keragaman; terpenuhi aspek kualitas dan penampakan; sebagai standar pengukuran suatu kompatibilitas dan interoperabilitas. Dari keempat aspek tersebut, dia mendetailkannya menjadi delapan, seperti variety reduction, quality performanc, measurement, codified knowledge, compatibility, vision, health and safety, dan enviromental.

Badan Standarisasi Nasional atau BSN sebagai otoritas bewenang atas standar memberikan pendapat yang agak berbeda dengan SWANN. Organisasi ini memberikan 10 tujuan yang terdiri dari :

Pengertian standarisasi adalah produk yang telah berstandar telah memenuhi persyaratan teknis atau sesuatu yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak, pemerintah, atau keputusan internasional yang terkait dengan memperhatikan syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan IPTEK, perkembangan masa kini dan masa depan

Kesesuaian pada tujuan (fitness for purpose)

Pembuatan standarisasi produk berguna sebagai pemenuhan kebutuhan pemakai. Semisal pekerja proyek memakai sepatu dan helm pengaman yang bertujuan selamat di tempat kerja. Maka, pekerja tersebut dapat terhindar dari kontaminasi bahan kimia berbahaya, api, listrik, ataupun tertimpa benda berat berkat pengaman yang digunakan.

Kemampuan tukar (Interchangeability)

Berkat standarisasi, sebuah produk memiliki kemampuan untuk bertukar dengan produk lain. Kemampuan semacam ini disebabkan karena adanya nilai kesesuaian produk tersebut dengan yang lainnya. Ambil contoh, penetapan standar ukuran velg kendaraan bermotor memungkinkan pengguna dapat mempertukarkan ban dari berbagai merek.

Pengendalian keanekaragaman (Variety Reduction)

Standarisasi memungkinkan produk untuk lebih spesifik dan tidak ada keragaman. Sebagai contoh kertas ukuran A4 yang dapat diterapkan untuk berbagai kebutuhan dari mulai surat, kertas kerja, kartu, dokumen, percetakan dan lainnya.

Kompatibilitas (Compatibility)

Dengan adanya standarisasi berarti telah mempunyai kompatibilitas atau kecocokan apabila hendak menggantikan produk sejenis. Seperti pemrosesan data elektronik yang di dalamnya berupa informasi berbentuk kode. Maka kode yang diciptakan ini dimaksudkan agar dapat dikenali di setiap jenis piranti. Itu sebabnya kode harus terstandarisasi. Hal ini menjadi penting untuk mendukung usaha kompatibilitas berbagai piranti, sistem, dan sub-sistem, maupun peluang untuk ekspansi fitur pertukaran informasi.

Meningkatkan pemberdayaan sumber daya (empowerment of resources)

Produk yang diproduksi menggunakan standarisasi menerapkan rekomendasi dan aturan dalam penggunaan sumber daya. Seperti misalnya, konstruksi bangunan sipil yang dalam proses pencampuran adukan semen, pasir, air, dan batuan dilakukan sesuai standar. Begitu juga dengan penggunaan besi beton yang disesuaikan dengan pedoman yang akhirnya mencapai kekuatan yang dipersyaratkan.

Komunikasi dan pemahaman yang lebih baik (better communication and understanding)

Melalui standarisasi, komunikasi sekaligus pemahaman antara produsen dan konsumen terjalin dengan baik. Penetapan spesifikasi subyek yang ada dapat memberikan kepercayaan bahwa produk memenuhi persyaratan yang tercantum dalam standar. Lewat itu pula, dengan medium simbol, dapat mengurangi simpangsiur yang disebabkan bahasa. Semisal tanda petir pada kemasan mainan yang menandakan bahwa perangkat dapat diberi daya listrik.

Menjaga keamanan, keselamatan, dan kesehatan (maintaining security safety and health)

Produk yang telah terstandarisasi secara otomatis memiliki jaminan keamanan, keselamatan, dan kesehatan bagi pengguna. Misalnya penetapan batas penggunaan zat warna atau bahan pengawet pada makanan yang ber-SNI merupakan salah satu contoh; Lainnya seperti desain setrika listrik yang dirancang agar pengguna dapat terlindung dari kejutan listrik.

Pelestarian lingkungan (environment)

Produk yang terstandarisasi umumnya memperhatikan kelestarian lingkungan, baik dari mulai penggunaan hingga pembuangan. Hal ini biasa diterapkan dalam regulasi dan peraturan maupun persyaratan khusus tertentu.

Alih teknologi (technology transfer)

Standarisasi yang dipelihara selalu mengalami perubahan, salah satunya akibat perubahan teknologi. Melalui penerapannya, secara langsung produk tersebut telah menerapkan alih teknologi secara tidak disadari.

Mengurangi hambatan perdagangan (trade barriers reduction)

Pengakuan standar yang diakui secara internasional dapat membuka peluang perdagangan internasional. Karena hambatan perdagangan non-tarif dapat di eliminasi. Sehingga tiap produk dapat bersaing di pasar global secara lebih terbuka dan sehat. Konsumen memiliki keuntungan di sini karena memiliki banyak ragam pilihan yang memiliki mutu dan harga yang sangat kompetitif.

Pendekatan Standarisasi

Makna atau pemahaman sebuah produk terstandarisasi pada dasarnya dapat diungkap, baik secara fisik (tangible) maupun non-fisik tidak berwujud (intangible). Garvin (1984) dalam Tjiptono (2008) memberikan lima pendekatan pada produk berstandar, seperti :

Transcendent Approach

Sebuah produk terstandarisasi dapat dimaknai hanya apabila menggunakannya. Dengan kata lain pemahaman konsumen akan hadir saat menggunakan dan merasakannya.

Product Based Approach

Di konteks ini produk dapat terungkap dari keragaman atribut yang menempel padanya, semisal desain produk, kemasan, komposisi, dan lain sebagainya.

User Based Approach

Pada pendekatan ini standar dilakukan sesuai dengan kebutuhan, selera, dan kebiasaan pengguna.

Manufacturing Based Approach

Standarisasi pada produk ini disesuaikan berdasarkan ketentuan dan spesifikasi pabrikan atau perusahaan penghasilnya.

Value Based Approach

Pengertian standarisasi adalah produk yang telah berstandar telah memenuhi persyaratan teknis atau sesuatu yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak, pemerintah, atau keputusan internasional yang terkait dengan memperhatikan syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan IPTEK, perkembangan masa kini dan masa depan

Standarisasi yang diterapkan pada suatu produk berdasarkan refleksi atas nilai biaya untuk menghasilkan barang dan atau jasa tersebut. Sehingga semakin tinggi nilainya, maka berbanding lurus dengan mutu yang ditawarkan.

Dalam pemenuhan pendekatan, ada nilai standar yang terdiri dari 8 atribut yang dapat ditempuh seperti :

  • Performance, standarisasi yang fokus pada bentuk, baik terlihat maupun tidak
  • Feature, penerapan yang dilakukan dengan memberi atau menambah kelengkapan pada produk
  • Reliability, aplikasi yang bertumpu pada fungsi keandalan dan kegunaan produk
  • Conformance. Pengaplikasian lewat pemenuhan syarat yang diperlukan bagi produk
  • Durability, standarisasi yang bertumpu pada aspek jangka waktu penggunaan
  • Serviceability, penerapan pada kemampuan layanan
  • Aesthetics, aplikasi yang menguatkan aspek estetis
  • Perceived Quality, standarisasi yang menyesuaikan dengan persepsi konsumen

Penutup – Kesimpulan

Standarisasi memiliki tujuan luas dalam pemenuhan tidak saja bagi pengguna, melainkan juga sekaligus memudahkan dalam melakukan penukaran, pengurangan keragaman produk, kompatibilitas, keamanan, kenyamanan, dan pelestarian lingkungan, dan penyesuaian atas dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan daya saing produk.

Standarisasi selain menguntungkan konsumen sudah tentu produsen. Apabila Anda sebagai produsen yang hendak menerapkan standarisasi pada produk, kami siap membantu mendapatkan sertifikasi terutama SNI dan SDPPI.

nv-author-image

Budi Pramono

Leave a Reply

Your email address will not be published.