Contoh Pembukuan Warung Makan yang Wajib Diketahui Para Pengusaha Kuliner

Written By Sakinatul Muhimmah

Contoh-contoh pembukuan warung makan memang cukup banyak tersebar di dunia maya. Tentu saja, contoh-contoh pembukuan warung makan ini bisa digunakan sebagai acuan dalam mencatat penjualan warung para pengusaha kuliner masa kini.

Namun, tak sedikit orang yang kemudian bertanya-tanya mengapa harus mengetahui contoh pembukuan warung makan secara tepat?

Jawabannya sederhana, karena sebelum menjalankan bisnis apapun akan lebih bagus jika pengusaha tahu dan paham terlebih dulu soal laporan keuangannya.

Pembukuan warung makan ini penting dilakukan supaya pengusaha mendapat data lengkap, utuh, dan cermat mengenai penjualan yang berlangsung.

Dengan begitu, pengusaha bisa mengetahui bahwa warung yang dikelolanya mendapat untung atau justru merugi.

Berkat contoh pembukuan warung makan ini pula, pengusaha kuliner bisa memperkirakan besar omzet di setiap bulan. Selain itu, pengusaha juga bisa mendapat informasi seputar laba yang dihasilkan sampai cash flow dari keuangan warung tersebut.

Memahami arti contoh pembukuan warung makan

Contoh Pembukuan Warung Makan 2
Google.com

Bagi para pengusaha yang masih awam, pembukuan ini merupakan suatu bentuk kegiatan untuk mencatat segala informasi keuangan usaha yang nantinya dikelola. Informasi dan data tersebut meliputi aliran kas masuk dan keluar, seperti pemasukan, utang, hingga piutang.

Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan tersebut, laporan keuangan warung makan atau yang juga dikenal sebagai laporan laba rugi bisa dibuat secara utuh.

Sebenarnya, membuat pembukuan warung makan secara sederhana bisa dilakukan dengan media apapun. Apabila tidak memiliki perangkat canggih seperti laptop dan komputer, maka pembukuan usaha ini juga bisa dilakukan secara manual dengan tulisan tangan.

Ketika seorang pengusaha rajin membuat catatan atau pembukuan usaha, maka bisa dibilang pengusaha tersebut sudah memiliki bekal dalam mengelola keuangan bisnisnya dengan baik.

Apalagi saat usahanya berkembang semakin pesat. Sebab, dengan begitu transaksinya pun turut meningkat secara drastis.

Alasan bisnis warung makan juga membutuhkan pembukuan

Sebelum melanjutkan pembahasan pada contoh pembukuan warung makan, sebaiknya ketahui dulu pengertian dari pembukuan secara singkat dan jelas.

Pada dasarnya, pembukuan adalah metode pencatatan yang dilakukan demi mengumpulkan data keuangan. Data tersebut meliputi modal usaha, biaya operasional, dan harga produk yang kemudian disusun sedemikian rupa untuk dijadikan laporan keuangan.

Dalam suatu bisnis kuliner, transaksi keuangan adalah salah satu poin paling vital yang wajib dikelola dengan cermat dan teratur. Pencatatan setiap transaksi harus dikemas dalam satu wadah yakni pembukuan yang kemudian dirangkum lagi menjadi jurnal.

Pencatatan semacam ini bisa lebih khusus lagi jika dibuat berdasarkan pembagiannya. Misalnya saja contoh pembukuan warung makan.

Setiap pemasukan dan juga pengeluaran warung makan harus dicatat pada suatu wadah berbeda. Tujuannya supaya para pelaku usaha tersebut lebih mudah melakukan evaluasi.

Bukan itu saja, bisnis kuliner seperti ini juga membutuhkan laporan keuangan guna memudahkan manajemen sehari-hari. Adanya pencatatan keuangan bisa memudahkan pengusaha untuk mendapat bantuan pendanaan lembaga perbankan ataupun pemerintah.

Tujuan dilakukan pembukuan pada usaha warung makan

Pembuatan contoh pembukuan warung makan ini juga dilakukan demi memenuhi beberapa tujuan penting. Berikut di antaranya:

Meminimalkan risiko hilangnya aset, produk, dan uang

Contoh pembukuan warung makan secara sederhana biasanya meliputi tiga hal penting. Diantaranya adalah kas, produk, dan aset.

Mencatat ketiga hal tersebut secara detail dan rutin bisa meminimalkan terjadinya risiko kehilangan. Pasalnya, para pelaku usaha warung makan sudah mengetahui seperti apa arus beserta penggunaan tiap produk, aset, dan kas masing-masing.

Mengetahui besar setiap utang piutang

Ketika menjalankan bisnis warung makan, biasanya pengusaha bakal menemukan kondisi pelanggan yang berutang (piutang) atau justru pelaku usaha itu sendiri yang berutang (utang). Tentu saja, kedua kondisi di atas wajib dicatat dan diberi masa tenggat agar kegiatan usaha warung makan bisa tetap berjalan.

Ketika pengusaha tidak rajin atau sengaja tidak mencatat utang dan piutang usaha, maka hal tersebut sangat berpotensi mengganggu kegiatan operasional usaha.

Mengontrol pengeluaran biaya operasional warung makan

Contoh Pembukuan Warung Makan 4
Google.com

Di setiap bulan, pelaku usaha kuliner sudah pasti akan dikenakan biaya operasional berupa listrik, penyusutan barang, sewa tempat, hingga gaji karyawan.

Dengan adanya contoh pembukuan warung makan, maka pengusaha akan sangat terbantu untuk melakukan evaluasi setiap kegiatan operasional sehari-hari.

Berdasarkan evaluasi tersebut, para pelaku usaha akan mendapat solusi paling tepat agar kegiatan usaha lebih efektif sekaligus efisien.

Contoh pembukuan warung makan bisa jadi pedoman strategi usaha agar lebih optimal

Salah satu tujuan membuka usaha warung makan adalah mencari keuntungan. Berkat adanya pembukuan usaha yang dicatat secara rutin, pengusaha bisa lebih tahu aspek apa saja yang bisa lebih dikontrol agar mendapat laba lebih besar.

Misalnya saja, ternyata ada suatu produk yang lebih diminati oleh pelanggan ketimbang produk lainnya, maka pengusaha wajib memperhatikan produk yang dimaksud. Tambahkan stok barang atau sekadar memberi promo menarik pada barang yang agak kurang diminati pelanggan agar penjualan tetap stabil.

Penyusunan contoh pembukuan warung makan kekinian

Ketahuilah, pondasi kokoh bisa menjadikan setiap bangunan bertahan lama. Begitu juga dengan pengelolaan bisnis kuliner.

Namun sayangnya, tak semua pengusaha warung makan mau melakukan pencatatan atau pembukuan atas usaha yang dilakoni. Biasanya, mereka beralasan tak memiliki waktu untuk mencatat, merasa kesulitan, dan segudang alasan lain.

Akibatnya, warung makan yang dikelola tak bisa berkembang sesuai harapan meski telah berdiri belasan atau puluhan tahun. Nah, berikut ini beberapa dasar pencatatan yang bisa dijadikan contoh pembukuan warung makan.

Pemasukan usaha

Langkah pertama yang patut dilakukan saat melakukan pencatatan laporan keuangan warung makan adalah menyediakan media atau buku khusus guna menyimpan data pemasukan. Tentu saja, data yang dimaksud berasal dari hasil penjualan selama warung beroperasi.

Pastikan untuk mencatat setiap pemasukan di setiap harinya secara teratur supaya mudah dikontrol. Dengan demikian bakal terlihat, kapan warung makan tersebut mendapat pemasukan berlebih dan kapan tergolong sepi.

Adapun contoh pemasukan dalam pembukuan yang harus dicatat adalah utang yang sudah terbayar, hasil dari setiap penjualan, dan jenis pemasukan lainnya.

Pengeluaran usaha warung makan

Langkah selanjutnya untuk membuat pembukuan warung adalah mencatat setiap detail pengeluaran. Catatan ini tak kalah penting dengan catatan pemasukan.

Pencatatan konvensional mewajibkan para pengelola usaha untuk mengumpulkan setiap bukti pembayaran atau nota pengeluaran. Seperti halnya pemasukan, pencatatan pengeluaran ini harus dilakukan di setiap hari supaya mudah mencari informasi yang dibutuhkan.

Mencatat detail laba rugi warung makan

Secara umum, pencatatan laba rugi warung makan berisi tentang kalkulasi laba dan juga rugi selama usaha tersebut beroperasi. Pencatatan transaksi setiap barang produksi juga harus dilakukan teratur dan sistematis.

Sebab, data tersebut nantinya bisa digunakan pelaku usaha sebagai data yang akurat ketika evaluasi finansial berlangsung.

Mencatat stok barang dengan teliti

Contoh Pembukuan Warung Makan 1Contoh Pembukuan Warung Makan 3
Google.com

Dasar pembukuan warung makan berikutnya adalah mencatat stok barang dengan teliti. Setiap stok barang yang dimaksud meliputi barang keluar dan masuk.

Hal tersebut sangat terkait dengan pengelolaan warung secara keseluruhan. Ketika stok barang dilakukan dengan rinci dan cermat, maka pengelolaan usaha bisa lebih tertata rapi.

Selain itu, stok barang yang ditulis dengan data lengkap dan jelas akan membatu kegiatan operasional warung berjalan lancar dan jauh dari risiko kerugian. Adapun fungsi pencatatan satu ini juga untuk meminimalkan oknum yang hendak melakukan tindak kecurangan.

First In, First Out (FIFO)

Setiap bahan baku usaha yang digunakan sudah pasti memiliki batas waktu atau life time. Dengan demikian, bahan baku yang dibeli lebih dulu harus dikeluarkan lebih dulu pula.

Tujuannya supaya stok barang bisa digunakan seluruhnya tanpa berisiko menanggung rugi akibat pembuangan stok bahan baku.

Penerapan FIFO ini masih sangat terkait dengan pembukuan stok barang. Apabila pencatatan tidak memasukkan data stok dan sistem FIFO tidak diberlakukan, maka pengusaha akan mengalami sejumlah kerugian besar.

Pembukuan buku warung memang diperlukan bagi pelaku usaha baik dengan buku warung APK maupun dengan pembukuan manual. Demikian informasi seputar contoh pembukuan warung makan yang bisa dipahami lebih lanjut. Semoga membantu!

Leave a Comment