Waspadai Resiko Hamil Anggur! Berikut Penjelasan Medis tentang Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya

Written By Leli Ristiana

Kehamilan menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh pasangan suami istri. Kehadiran sang buah hati seakan menjadi pelengkap dari biduk rumah tangga yang selama ini dibangun.

Namun, apa jadinya ketika didapati komplikasi atau masalah pada kehamilan yang selama ini dinanti-nanti? Hal ini tentu akan menjadi mimpi buruk yang tidak pernah diharapkan oleh siapapun.

Adanya komplikasi atau keluhan pada wanita hamil bisa disebabkan oleh banyak faktor. Penyebab paling dominan diantaranya faktor keturunan, usia, dan pola hidup tidak sehat, seperti kurang olahraga ataupun pola makan yang salah.

Adapun salah satu bentuk masalah kehamilan yang bisa menyebabkan seseorang gagal memiliki anak adalah hamil anggur. Kejadian semacam ini sangat jarang terjadi dan biasanya dialami oleh ibu hamil yang usianya di atas 35 tahun.

Gangguan kehamilan dengan nama lain mola hydatidosa ini memiliki gejala berupa pertumbuhan plasenta yang abnormal. Plasenta tersebut tumbuh menjadi segerombolan kista kecil yang sekilas menyerupai buah anggur.

Malangnya lagi, janin dalam kondisi demikian tidak bisa berkembang atau terbentuk. Informasi lengkap tentang penyebab, gejala, dan cara penanganannya dapat Anda baca pada artikel berikut.

Ketahui Secara Detail Penyebab Utama Terjadinya Hamil Anggur

Idealnya, kehamilan dapat terjadi ketika 23 kromosom dari ayah bertemu dengan 23 kromosom dari ibu. Syarat tersebut mutlak harus dipenuhi sehingga masing-masing kromosom baik dari sel sperma maupun sel telur dapat berpasangan.

Oleh sebab itu, fenomena langka akan terjadi manakala ada ketimpangan atau ketidakseimbangan jumlah kromosom.

Adanya ketidakseimbangan kromosom inilah penyebab terjadinya komplikasi yang secara medis disebut dengan istilah kehamilan anggur. Dilihat dari sebab terjadinya, terdapat dua jenis hamil anggur yaitu komplet dan parsial. Detail dari kedua jenis komplikasi ini bisa Anda simak pada ulasan di bawah.

hamil anggur
ibu dengan hamil anggur via parenting.orami.co.id
  • Kehamilan anggur komplet (lengkap)

Kehamilan anggur komplet atau lengkap terjadi manakala proses pembuahan hanya disebabkan oleh materi genetik dari sang ayah yaitu sel sperma. Adapun sel telur yang dibuahi ternyata kosong atau tidak aktif.

Dengan demikian, bakal janin atau embrio tidak bisa terbentuk alias tidak ada, sedangkan plasenta tetap tumbuh dengan keadaan yang abnormal. Sebagaimana telah dijelaskan di awal, bentuk plasenta menyerupai tumor atau kista kecil seperti segerombolan anggur.

  • Kehamilan anggur parsial (sebagian)

Kehamilan anggur parsial atau sebagian terjadi ketika sel sperma berjumlah ganda yaitu dua buah, sedangkan sel telur hanya ada satu. Akibatnya, terjadi ketimpangan dimana perbandingan jumlah kromosom sel perma dibanding sel telur menjadi 46:23 dengan jumlah total 96 kromosom.

Idealnya, embrio dan plasenta akan terbentuk dengan sempurna ketika jumlah kromosomnya seimbang yaitu 23:23 dengan total 46.

Dalam keadaan demikian, embrio akan tetap terbentuk, namun tidak sempurna atau mengalami gagal tumbuh. Bakal janin tersebut tidak akan mampu bertahan lama dan biasanya akan mati dalam beberapa minggu ke depan setelah terjadinya pembuahan.

Begitu juga dengan plasenta, organ penghantar nutrisi untuk embrio tersebut terbentuk secara tidak sempurna dan menyerupai segerombolan anggur kecil.

Kenali Gejala Hamil Anggur yang Harus Anda Waspadai 

Sejatinya, gejala hamil anggurhampir sama dengan tanda-tanda kehamilan normal pada umumnya seperti morning sickness. Akan tetapi, level yang dirasakan cenderung lebih parah dan mengkhawatirkan. Lebih jelasnya, simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

1. Mual dan muntah berlebihan

hamil anggur
morning sickness ibu hamil (ilustrasi hamil anggur) via parenting.orami.co.id

Wanita dengan kehamilan anggur akan mengalami morning sickness yang berlebihan. Mual dan muntah yang dialaminya memiliki intensitas yang lebih sering dengan gejala yang lebih berat.

Hal ini tentu sangat beresiko menimbulkan gangguan kesehatan, seperti dehirasi dan penurunan imun tubuh secara drastis jika tidak segera ditangani.

2. Perut terlihat lebih besar dari usia kandungan

Gejala lain yang bisa menjadi indikasi seseorang mengalami kehamilan anggur adalah pembesaran perut yang tidak biasa. Perut wanita yang sedang hamil memang akan semakin buncit, tetapi pembesarannya terlihat melebihi usia kandungannya.

Hal semacam ini lebih sering terjadi ketika komplikasi tersebut masuk dalam kategori komplet atau lengkap. Jika Anda mengalami hal tersebut, sebaiknya segera lakukan USG untuk memastikannya.  

3. Alami preklamsia dini

Preklamsia merupakan suatu gejala hipertensi dalam kehamilan dan kandungan protein tinggi pada urin yang terjadi pada wanita hamil.

Kondisi ini memang wajar asalkan terjadi pada trimester tiga kehamilan, Akan tetapi, pada kasus kehamilan anggur, preklamsia terjadi lebih awal yaitu pada trimester pertama ataupun kedua.

4. Tidak merasakan detak jantung janin

hamil anggur
gejala hamil anggur via parenting.orami.co.id

Gejala yang paling sering dialami wanita dengan hamil anggur adalah dirinya tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan pada janin di rahimnya. Bahkan ketika usia kandungannya sudah menginjak trimester dua, detak jantung ataupun gerakan aktif dari janin tidak dapat dirasakan sama sekali.

5. Keluar bercak darah disertai kista kecil

Bercak darah yang keluar dari vagina pada wanita hamil memang dianggap normal terutama saat usia kandungan masih trimester satu.

Namun, beda ceritanya ketika bercak darah tersebut keluar saat trimester dua atau tiga dan disertai gumpalan kista kecil. Hal ini menjadi salah satu pertanda bahwa Anda mengalami kehamilan anggur. Keluarnya flek darah biasanya akan disertai dengan nyeri perut yang hebat.

6. Hipertiroidisme

Hipertiroidisme merupakan sebuah gejala dimana kelenjar tiroid terlampau aktif yang disebabkan oleh tingginya kadar hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin). Hal ini akan memberikan dampak negatif, seperti efek dentak jantung berdegup kencang, gemetaran, berkeringat, dan suhu badan yang tinggi.

Baca juga: Perbedaan Perut Buncit dan Hamil? Begini Cara Membedakannya!

Penanganan Tepat Atasi Masalah Hamil Anggur

Pada kasus kehamilan anggur, biasanya janin ataupun plasenta akan luruh dengan sendirinya. Ketika keguguran secara spontan ini terjadi, ibu hamil akan mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah yang menyerupai kista kecil atau anggur. Selanjutnya, dokter hanya akan memberikan beberapa resep untuk pemulihan.

Jika keguguran tidak terjadi secara spontan atau mandiri, maka ibu hamil akan membutuhkan pertolongan medis untuk meluruhkannya.

Dua jenis tindakan yang kerap dilakukan antara lain kuretase dan histerektomi. Lantas, dalam keadaan bagaimana seseorang harus menjalani satu dari dua opsi tersebut? Berikut ulasan selengkapnya: 

  • Kuretase

Opsi pertama yang akan diutamakan oleh dokter adalah kuretase untuk meluruhkan bakal janin dan plasenta. Sayangnya, tindakan tersebut terkadang masih menyisakan sel-sel abnormal yang bisa membahayakan bila dibiarkan.

Oleh sebab itu, dibutuhkan prosedur pemulihan lainnya untuk memastikan bahwa sel tersebut telah hilang atau bersih.

Pemulihan dilakukan dengan cara melihat kadar HCG. Idealnya, hormon HCG akan kembali normal manakala sel-sel abnormal telah hilang pasca kuretase.

Pemulihan ini dilakukan dalam kurun waktu 6 bulan atau 12 bulan berturut-turut. Dokter juga akan menyarankan agar Anda tidak menjalankan program hamil terlebih dahulu baik secara mandiri atau pemasangan alat kontrasepsi.

  • Histerektomi

Beda ceritanya ketika didapati penyakit lain yang berbahaya seperti gestational trophoblastic neoplasia atau tidak ada rencana untuk hamil kembali. Dokter akan mengambil langkah histerektomi. Tindakan tersebut merupakan pengangkatan organ rahim permanen sehingga yang bersangkutan tidak bisa hamil lagi.

Bagi Anda penderita hamil anggur, sebaiknya lakukan penanganan medis secara tuntas dan menunda kehamilan terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan wanita dengan komplikasi semacam ini sangat rawan untuk mengalami hal yang sama pada kehamilan selanjutnya.

Editted: 25/06/2021 by IDNarmadi.

Leave a Comment