Waspadai Resiko Hamil di Luar Kandungan! Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganannya

Photo of author
Ditulis oleh Leli Ristiana

Komplikasi yang terjadi pada masa kehamilan kerap kali menjadi momok yang cukup menakutkan bagi setiap ibu hamil. Berbagai macam resiko kehamilan bisa saja muncul tanpa diduga-duga.

Jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat, hal tersebut dapat mengakibatkan gejala yang lebih serius.

Kehilangan calon buah hati atau bahkan kematian sang ibu bisa menjadi salah satu resiko paling fatal yang mengintai.

Salah satu bentuk komplikasi yang sangat berbahaya bagi ibu hamil adalah kasus kehamilan abnormal. Istilah ini digunakan untuk mewakili berbagai macam kelainan yang bersifat tidak normal atau prematur.

Satu diantara sekian banyak komplikasi abnormal adalah kehamilan ektopik atau biasa dikenal dengan nama hamil di luar kandungan.

Kehamilan yang seharusnya berada di rahim justru berada di area lain, seperti serviks, tuba falopi, indung telur, ataupun rongga perut.

Hal ini tentu sangat membahayakan keselamatan sang ibu dan hasil pembuahan pun tidak akan berkembang. Lantas, bagaimana kehamilan ektopik dapat diketahui dan seperti apa penanganannya? Berikut ini ulasan lengkapnya untuk Anda.  

Kenali Tanda-Tanda Hamil di Luar Kandungan dan Inilah Cara Medis Mendiagnosa

Sebelum menguak informasi tentang bagaimana dokter mengetahui bahwa kehamilan tersebut termasuk ektopik, sebaiknya kenali dahulu tanda-tandanya. Secara umum, gejala yang dirasakan diantaranya pendarahan vagina, pusing, lemas hingga pingsan, dan nyeri.

Rasa nyeri yang muncul bisa dirasakan saat buang air kecil ataupun besar. Nyeri hebat tersebut dirasakan pada bagian tertentu, seperti panggul dan salah satu sisi perut bawah.

Jika Anda merasakan berbagai gejala di atas saat hamil, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan kondisinya.

Beberapa tindakan medis yang mampu mendiagnosa adanya kondisi kehamilan di luar kandungan antara lain sebagai berikut:

hamil di luar kandungan
hamil di luar kandungan via kondisiumum.com

1. Ultrasonografi (USG)

USG menjadi cara yang cukup efektif bagi dokter untuk memastikan kondisi kehamilan pasiennya. Terlebih lagi jika tindakan tersebut berupa USG kehamilan transvaginal yang mampu mendeteksi secara akurat dimana letak ectopic pregnancy.

Melalui alat tersebut, dokter bisa melihat dengan jelas kondisi rahim, tuba falopi, dan saluran jalan lahir.

2. Pemeriksaan panggul

Tindakan medis kedua untuk mendeteksi hamil di luar kandungan adalah dengan melakukan pemeriksaan panggul. Bagian tuba falopi akan tampak apabila terindikasi adanya pertumbuhan sel atau gumpalan yang abnormal.

Bagian rahim juga dapat dilihat apakah mengalami pembesaran layaknya kehamilan pada umumnya atau tidak.

3. Tes hormon HCG (Human Chorionik Gonadotropin)

Cara untuk mengetahui kadar hormon HCG adalah dengan melakukan tes darah. Umumnya, wanita hamil akan mengalami peningkatan kadar HCG setiap harinya.

Namun, hal ini tidak berlaku bagi wanita yang hamil ektopik. Apabila dilakukan pengecekan, maka kadar HCG terhitung sangat rendah atau terdapat kelainan.

Beberapa Penyebab Seseorang Mengalami Hamil di Luar Kandungan

Hamil di luar kandungan diduga akibat kerusakan atau kelainan yang terjadi pada saluran tuba falopi sebagai penghantar sel telur.

Namun, apa saja sebab-sebab yang membuat seseorang beresiko mengalami kehamilan ektopik? Penjelasan lengkapnya dapat Anda baca pada poin-poin di bawah ini:

1. Infeksi tuba falopi

Infeksi atau peradangan yang terjadi di tuba falopi sangat berpengaruh terhadap proses jalannya sel telur yang telah dibuahi menuju rahim. Oleh sebab itu, hal ini dapat memicu terjadinya kehamilan ektopik. Munculnya infeksi bisa diakibatkan oleh penyakit menular seksual seperti klamidia atau gonore. 

2. Kerusakan organ reproduksi

Kerusakan pada organ reproduksi baik pada rahim atau saluran tuba falopi dapat meningkatkan resiko mengalami kehamilan ektopik. Adanya kerusakan jaringan tersebut bisa diakibatkan oleh tindakan operasi yang pernah dilakukan, seperti operasi caesar ataupun usus buntu.

3. Miliki riwayat kehamilan ektopik

Wanita yang pernah memiliki riwayat kehamilan ektopik juga beresiko mengalami hal serupa ketika hamil berikutnya. Hal ini bisa saja terjadi karena faktor resiko atau penyebabnya masih ada.

4. Hamil usia di atas 35 tahun

Hamil di usia yang cukup tua memang cukup beresiko baik saat masa-masa kehamilan ataupun persalinan. Salah satu resiko yang bisa terjadi adalah kehamilan ektopik terutama pada wanita hamil yang berusia 35-44 tahun.

5. Pengaruh alat kontrasepsi

hamil di luar kandungan
Alat kontrasepsi pil KB (hamil di luar kandungan) via parenting.orami.co.id

Pil KB sebagai salah satu alat kontrasepsi dapat berpengaruh terhadap proses kehamilan selanjutnya. Pasalnya, obat tersebut mengandung progesteron yang dapat melenturkan tuba falopi sehingga ovum yang telah dibuahi mudah menempel di saluran tersebut.

6. Miliki kebiasaan merokok

Tepat di saluran tuba falopi terdapat protein PROKR1 yang membantu proses implantasi pembuahan ovum menuju rahim.

Namun, apabila kadar protein ini terlalu tinggi maka dapat berakibat melekatnya sel telur di tuba falopi karena terlalu lengket. Salah satu penyebab peningkatan kadar protein ini adalah kebiasaan merokok.

7. Efek samping obat kesuburan

Wanita yang berencana untuk melakukan program hamil biasanya akan diberi obat kesuburan terlebih dahulu. Sayangnya, beberapa obat penyubur kandungan dapat meningkatkan resiko terjadinya hamil di luar kandungan.

Selain obat kesuburan, program kehamilan berupa bayi tabung juga cukup beresiko menimbulkan kasus kehamilan ektopik, Bagaimana tidak, proses implantasi embrio yang dimasukkan ke dalam rahim bisa berpindah ke salah satu sisi tuba falopi.

8. Endometriosis

Wanita yang mengalami endometriosis beresiko untuk mengidap kehamilan ektopik karena saluran tuba falopi dalam rahim terdapat jaringan parut.

Jaringan abnormal tersebut disebabkan karena penebalan dinding rahim abnormal hingga ke bagian lain seperti tuba falopi. Meskipun penebalan tersebut akan luruh saat siklus menstruasi, namun pengendapan masih bisa terjadi di saluran tuba falopi.

Hubungan antara endometriosis dan kehamilan menjadi penting untuk diketahui sejak awal agar tidak berakibat buruk. Memeriksakan diri ke dokter dan terbuka terhadap setiap kehulan adalah salah satu jalan keluar terbaik.

Penanganan Medis pada Wanita yang Alami Hamil di Luar Kandungan

Kehamilan ektopik bisa ditangani dengan sejumlah tindakan medis. Namun, penanganan yang dilakukan oleh dokter sangat bergantung dari seberapa parah gejala yang muncul.

Oleh karenanya, penting bagi ibu hamil untuk rutin mengecek kondisi kandungannya untuk memastikan bahwa janin tumbuh normal sebagaimana mestinya.

Terdapat 3 jenis tindakan medis yang biasa dilakukan untuk menangani komplikasi hamil di luar kandungan. Berikut ini penjelasan lengkapnya untuk Anda:

  • Penyuntikkan obat methotrexate
hamil di luar kandungan
Penyuntikan obat penanganan hamil di luar kandungan – via cirebon.pikiran-rakyat.com

Methotrexate merupakan obat yang digunakan untuk menghambat ataupun menghentikan perkembangan embrio yang abnormal. Tingkat keberhasilan obat ini cukup tinggi dengan resiko yang rendah.

Penyuntikkan methotrexate ini dilakukan manakala kehamilan ektopik diketahui sejak dini sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada tuba falopi maupun indung telur.

Sebelumnya, dokter akan memastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada pembuahan sel telur yang terjadi di dalam rongga rahim. Pasca penyuntikkan, maka sel-sel ektopik akan hancur dan luruh dengan sendirinya.

Pengecekan kadar HCG akan dilakukan secara rutin setiap 2-3 hari sekali untuk memastikan bahwa hormon kehamilan tersebut sudah tidak ada.

  • Tindakan operasi

Dokter akan melakukan tindakan operasi apabila terindikasi adanya kerusakan pada jaringan tuba falopi. Hal ini ditandai dengan munculnya pendarahan hebat akibat kehamilan ektopik. Operasi dilakukan dengan cara laparoskopi yaitu pengangkatan embrio yang berada di saluran tuba falopi.

Mulanya, dokter akan membuat sayatan kecil di bawah pusar dan memasukkan alat bantu menyerupai tabung kecil berkamera ke dalam perut. Jika kerusakan tuba falopi cukup parah maka akan dilakukan tindakan salpingektomi atau pengangkatan dan dilanjutkan dengan salpingostomi atau perbaikan sel.

Usai dilakukan tindakan operasi tersebut maka pasien diwajibkan untuk beristirahat total selama 1-2 hari untuk pemulihan. Selain itu, yang bersangkutan juga diharapkan untuk tidak merencanakan program hamil dalam waktu dekat.

Komplikasi hamil di luar kandungan memang tidak bisa dihindari, namun penerapan pola hidup sehat dapat mencegah munculnya resiko tersebut.

Untungnya, wanita yang pernah mengalami kondisi kehamilan ektopik masih memiliki banyak peluang untuk bisa hamil normal. Tercatat sebanyak 65%-85% wanita bisa kembali hamil secara normal pasca pemulihan selama 18-24 bulan.

Editted: 25/06/2021 by IDNarmadi.

Leave a Comment