Tahapan Penting Perkembangan Psikologi Anak Sejak Dini Hingga Remaja

Ada beberapa tahapan penting dalam perkembangan psikologi anak yang perlu diketahui oleh para orang tua.

Tidak hanya perkembangan kemampuan kognitif saja, tetapi juga perkembangan psikologi anak secara bertahap perlu diperhatikan.

Umumnya, anak yang memiliki perkembangan fisik yang sehat akan memberikan pengaruh terhadap kesehatan mental dan psikologinya.

Sesuai dengan namanya, perkembangan psikologi anak merupakan salah satu cabang ilmu fokus pada perilaku dan cara berpikir anak. Mulai dari si kecil dalam kandungan hingga ia beranjak dewasa.

Namun tahukah Anda ternyata psikologi perkembangan ini ini tidak hanya membahas tentang pertumbuhan sisi anak saja. Tetapi juga membahas tentang bagaimana perkembangan mental emosional dan sosialnya.

Oleh karena itu, agar perkembangan si kecil dapat berjalan secara maksimal penting sekali bagi orang tua memahami bagaimana tahapan perkembangan psikologi anaknya.

Lantas, bagaimana perkembangan psikologi si kecil mulai dari usia dini hingga dewasa? Nah, untuk lebih jelasnya simak ulasan lengkap berikut ini.’

Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini yang Jarang Diketahui

Mendidik anak bukanlah perkara mudah bagi orang tua khususnya yang baru pertama kali memiliki anak. Ada banyak sekali hal yang perlu diperhatikan untuk menyikapi perilaku anak pada setiap tahap usianya.

Memahami perkembangan psikologi anak wajib untuk dipahami agar orang tua bisa memberikan perlakukan dan didikan yang tepat. Berikut ini akan disajikan informasi tentang perkembangan psikologi anak mulai dari usia nol hingga 14 tahun atau remaja.

Perkembangan Anak Usia 0-18 Bulan

Seperti yang diketahui, sejak bayi pertama kali lahir sampai usinya masuk 18 bulan mereka cenderung mengalami perkembangan yang amat pesat.

Pada usia tersebut si kecil telah membuka mata dan berusaha untuk memahami dukungan sekitarnya dengan bantuan kelima indra. Pada fase perkembangan anak usia dini ini si kecil akan mengumpulkan informasi dengan cara melihat dan peka terhadap suara yang baru ia dengar.

perkembangan psikologi anak
Tahapan perkembangan psikologi anak, pixabay.com

Selain itu, si kecil juga akan berusaha untuk menyentuh benda-benda, mencium dan mencecap untuk merasakan rasanya.

Agar orang tua bisa membantu bayi tumbuh dan berkembang secara baik maka perlu menstimulasi hal-hal yang dibutuhkan dan diinginkan oleh si kecil. Tujuannya yaitu mengajak si kecil berinteraksi dan mengeksplorasi dunia yang baru ia kenal.

Nantinya seiring dengan pertambahan usianya, si kecil akan penasaran dan selalu terperangah dengan hal-hal baru yang terjadi di sekitarnya. Umumnya hal tersebut terjadi saat bayi bisa menggerakkan tangan, kaki dan juga jarinya.

Perkembangan Anak Usia 18 Bulan-2 Tahun

Tahapan selanjutnya dalam perkembangan psikologi anak yakni di usia 18 bulan hingga 2 tahun. Memasuki usia 18 bulan, umumnya bayi akan mulai belajar bagaimana mendefinisikan dirinya sendiri.

Pada fase atau tahapan ini orang tua sebaiknya menyediakan beragam aktivitas yang dapat memantik dan mengembangkan imajinasi serta perbendaraan kosakata. Pada usia bayi 18 bulan hingga 2 tahun ia cenderung selalu ingin tahu dan mencoba berbagai macam hal.

Oleh karena itu, pastikan untuk senantiasa berada di sampingnya untuk menghindari hal-hak yang tidak diinginkan. Biasanya karena keinginan si kecil mengeksplore hal-hal tertentu dapat menjadikan anak rawan kecelakaan. Kecelakaan yang dimaksud seperti terluka karena benturan, terjatuh dan lain sebagainya.

Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun

Pada perkembangan psikologi anak fase ketiga ini anak cenderung amat sibuk dengan aktivitas yang ia lakukan. Mulai dari belajar menggambar, menyusun mainan, bernyanyi dan masih banyak lagi. Umumnya pada usia ini orang tua akan mulai memasukkan anaknya ke sekolah TK.

perkembangan psikologi anak
Ikuti perkembangan psikologi anak dengan seksama, pixabay.com

Saat anak Anda berada di tahapan ini pastikan untuk menyediakan media pembelajaran yang si kecil butuhkan di rumah. Seperti belajar angka, papan bermain, huruf, permainan edukasi dan lain sebagainya.

Karena biasanya durasi sekolah TK itu hanya aktif selama beberapa jam saja di pagi, maka orang tua harus mempersiapkan perawatan anak sesudah sekolah.

Biasanya si kecil akan lebih tertarik untuk bermain sesudah sekolah. Jangan lupa untuk memberikan aktivitas yang mampu mendukung tumbuh kembangnya ya! Dengan memberikan aktivitas yang tepat tentu tumbuh kembangnya dapat berjalan secara baik dan sempurna.

Perkembangan Anak Usia 6-11 Tahun

Tahukah Anda ternyata perkembangan anak usia 6-12 tahun biasanya sangatlah bervariasi. Beberapa anak cenderung masih tampak seperti anak-anak tapi beberapa yang lainnya sudah mulai kelihatan beranjak remaja.

Bahkan ada yang belum mengalami masa pubertas, namun ada pula yang sudah menjajaki masa tersebut dengan beberapa perubahan tertentu. Perubahan yang dimaksud seperti bentuk tubuh, fluktuasi emosi, penyesuaian sikap dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu, sebagai orang tua penting sekali untuk mempertimbangkan berbagai macam perubahan dalam interaksinya dengan si kecil. Perlu diketahui, anak-anak yang memasuki usia ini cenderung mulai berpikir logis dan mulai menyukai tugas-tugas yang nyata.

Seperti membersihkan halaman, membantu masak di dapur dan lain sebagainya. Selain itu, mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang natural terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya.

Perkembangan Anak Usia 12-14 Tahun

Perkembangan psikologi anak yang perlu diperhatikan oleh para orang tua yaitu saat anak memasuki usia 12-14 tahun. Seperti yang diketahui, seiring beranjak nya usia, anak-anak mulai memasuki masa remaja dan mereka cenderung menginginkan independensi.

Selain itu, perkembangan psikologi anak remaja lebih sering berubah-berubah sehingga tidak heran heran jika emosinya masih belum stabil. Meski begitu terdapat sisi lain dari mereka yang masih ingin diperhatikan sebagai anak.

Memasuki usia 12 hingga 14 tahun sebaiknya orang tua bisa mulai melatih kemandirian dengan cara memberikan keleluasaan pada anak. Selain itu, orang tua juga bisa meninggalkan mereka di rumah dalam waktu yang lumayan lama.

Apabila memiliki adik, maka orang tua bisa mempercayakan anak usia 12-14 tahun ini untuk menjaga adiknya dalam jangka waktu tertentu.

Dalam memberikan independensi pada anak sebaiknya orang tua percaya dengan insting mereka. Namun perlu diingat, pastikan untuk memberikan terlalu banyak beban pada anak dalam waktu yang bersamaan.

Sebagai orang tua, Anda juga perlu meluangkan waktu untuk mengajak mereka ngobrol dan mencurahkan pendapat serta perasaan mereka.

Pada kondisi ini, orang tua perlu tanggap dan berempati dengan permasalahan yang dihadapi oleh anak. Pastikan bahwa perkembangan psikologi anak remaja pada diri mereka dapat berlangsung dengan baik!

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Psikologi Anak

perkembangan psikologi anak
Perkembangan psikologi anak sejak kecil hingga dewasa, pixabay.com

Setelah memahami tentang tahapan perkembangan psikologi anak di atas, maka selanjutnya yaitu mencari tahu faktor yang mempengaruhinya.

Perlu diketahui, terdapat beberapa faktor yang secara tidak langsung memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan psikologi anak. Lalu, apa saja faktor yang mempengaruhinya? Berikut akan dijelaskan beberapa ulasannya.

Keterlibatan Orang Tua

Faktor pertama yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak yaitu keterlibatan orang tua. Seperti yang diketahui, orang tua memiliki peran yang besar terhadap perkembangan psikologi anaknya.

Umumnya anak yang sering melakukan aktivitas bersama orang tuanya akan lebih tercipta ikatan yang kuat antara keduanya.

Dengan hubungan yang begitu dekat tersebut tentu akan membuat anak merasa lebih percaya diri kepada orang tuanya. Sehingga mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih jujur, percaya diri, terbuka dan lain sebagainya.

Pola Asuh

Selain keterlibatan orang tua, faktor lainnya yang berpengaruh terhadap perkembangan psikologi anak yaitu pola asuh.

Tahukah Anda pola asuh keluarga sangatlah penting karena karakter dan psikologi anak akan terbentuk di sana. Misalnya saja anak yang cenderung sering di manja akan tumbuh menjadi anak yang kurang bisa mandiri.

Tidak hanya pola asuh, kasih sayang yang diberikan oleh orang tua juga turut berperan dalam membentuk psikologi dan kepribadian si keci. Anak yang mendapatkan kasih sayang yang cukup maka si kecil akan menjadi orang yang penyayang, lembut dan memiliki empati terhadap orang lain.

Trauma

Umumnya kenangan di waktu kanak akan sangat membekas dalam benak si kecil baik kenangan yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Kenangan baik akan membuat psikologi anak berkembang dengan baik begitu pula sebaiknya.

Oleh karena itu, untuk menghindari trauma pada si kecil sebagai orang tua haruslah bertindak dan bersikap dengan baik. Jangan sampai perilaku dan ucapan Anda justru dapat melukai dan membekas pada batinnya.

Interaksi dengan Lingkungan

Tidak dapat di pungkiri lingkungan menjadi salah satu faktor yang turut penyumbang dalam perkembangan psikologi anak. Meski selama di rumah si kecil sudah didik dengan baik, namun saat mereka bergaul di lingkungan yang buruk ia bisa terpengaruh.

Untuk menghindari hal tersebut para orang tua sebaiknya selalu mengawasi aktivitas buah hatinya dengan memberikan arahan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh.

Jangan lupa untuk memberikan arahan yang disertai dengan alasan untuk mengajarkan anak berpikir kritis terhadap suatu hal.

Dampak Broken Home Terhadap Perkembangan Psikologi Anak

Setelah mengetahui tentang pola perkembangan anak beserta faktor yang mempengaruhinya. Pembahasan lainnya yang tidak kalah penting yaitu berkaitan dengan broken home yang berdampak besar terhadap perkembangan anak.

Lalu, sebenarnya apa saja dampak negatif dari broken home untuk pertumbuhan dan perkembangan psikologi anak? Untuk lebih jelasnya simak ulasan berikut.

Mengalami Kesedihan yang Berkelanjutan

Dampak broken home pertama yang pasti dirasakan oleh anak yaitu ia akan cenderung mengalami kesedihan yang berkelanjutan.

Anak akan sedih ketika menyadari adanya perpecahan di keluarganya karena ia sadar bahwa apa yang dilalui keluarganya akan hancur. Kenangan indah yang dulu terjadi bersama keluarga akan hilang dan tidak dapat terulang kembali.

Menyalahkan Diri Sendiri

Dampak berikutnya yang juga sering dirasakan oleh anak ketika orang tuanya mengalami broken home yaitu menyalahkan diri sendiri. Karena banyaknya masalah yang terjadi pada keluarga membuat perkembangan psikologi anak terganggu dan menyalahkan dirinya.

Dia menganggap bahwa penyebab perpisahan yang terjadi pada orang tuanya adalah kesalahannya. Padahal hal tersebut belum tentu benar dan jika dia terus-terusan menyalahkan dirinya tentu akan berdampak pada kesehatan mentalnya.  

Menjadi lebih Posesif

Psikologi perkembangan anak broken biasanya akan membuat si kecil menjadi lebih posesif baik dalam lingkungan pertemanan maupun percintaan.

Hal tersebut terjadi karena secara emosional anak yang broken home lebih haus kasih sayang karena tidak mendapatkan dari orang tuanya. Selain itu, anak yang broken home juga cenderung memiliki rasa cemburu yang sangat berlebihan terhadap orang-orang di sekitarnya.

Sulit Percaya dengan Orang lain

Dampak broken home terhadap perkembangan psikologi anak yaitu akan membuat dia sulit percaya dengan orang lain. Si kecil akan selalu merasa bahwa ia sedang dibohongi oleh orang-orang di sekitarnya.

Perlu diketahui, perasaan sulit menaruh kepercayaan kepada orang lain tersebut dapat membuat anak mudah stres dan frustrasi. Tidak hanya itu, mereka juga lebih sering berkecil hari ketika berhubungan dengan orang lain di sekitarnya.

Kehilangan Kasih Sayang

Tahukah Anda ternyata dampak dari broken home ternyata juga dapat membuat anak merasa kehilangan kasih sayang. Umumnya, rasa kehilangan yang dialami oleh anak korban broken home bukanlah kehilangan biasa atau biasa dikembalikan seperti semula.

Perkembangan psikologi anak korban broken home akan terganggu karena mereka merasa tidak ada sosok yang dapat memberikan kasih sayang dan memperhatikannya. Tidak heran jika anak dari korban broken lebih sering menyendiri atau sibuk dengan dirinya sendiri.

Tidak Memiliki Identitas Diri

Salah satu dampak dari korban broken home yang bisa dikatakan cukup parah yaitu tidak memiliki identitas diri. Biasanya mental dari anak korban broken home cenderung lemah dan merasa hidupnya tidak se beruntung orang lainnya.

Tanpa sadar, hal tersebut dapat menyebabkan anak dari korban broken home mudah sekali depresi, tidak memiliki identitas yang kuat dan merasa dirinya tidak berharga.

Trauma Berhubungan dengan Orang Lain

Satu lagi dampak dari broken home terhadap perkembangan psikologi anak yaitu trauma untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Situasi ini merupakan kondisi parah dari dampak adanya broken home pada anak.

Berdasarkan pengalaman yang tidak baik dalam keluarganya, akan membuat ia ragu dan takut untuk membangun hubungan atau berkeluarga dengan orang lain.

Setelah mengetahui ulasan tentang perkembangan psikologi anak beserta faktor yang mempengaruhi sebagai orang tua harus lebih peduli akan hal tersebut.

Jangan sampai karena salah pola asuh dan kebiasaan yang diterapkan justru memberikan dampak buruk pada psikologi anak ke depannya. Semoga sedikit informasi di atas bermanfaat dan membantu!

Editted: 16/06/2021 by IDNarmadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *