Cara Melatih Fokus Anak dan Mengenal Gangguan ADD/ADHD

Memang, melatih fokus anak membutuhkan kesabaran. Baik ketika sedang belajar, melakukan aktivitas yang diperintahkan orang tua ataupun kegiatannya sendiri.

Orang tua atau guru pasti sering mengalami kondisi dimana anak-anak sulit berkonsentrasi terhadap satu dan lain hal.

Misalnya saja ketika para orang tua meminta sang anak untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah (PR) dari guru di sekolah. Namun ternyata ketika dicek, belum lima menit dikerjakan, si anak justru sedang asyik bermain boneka.

Lain halnya dengan guru disekolah, ketika sedang mengajarkan pelajaran hitung-menghitung atau mengeja kalimat kepada para siswa.

Awalnya memperhatikan, tapi tidak lama hilang fokus dengan hal-hal atau kegiatan menarik lainnya. Misalnya melihat alat tulis teman yang lucu atau siswa yang sedang olahraga di luar kelas.

Itulah beberapa contoh kasus atau kondisi yang menggambarkan hilangnya fokus dan sulitnya berkonsentrasi pada anak. Oleh sebab itu, melatih fokus anak dibutuhkan untuk membantu anak sehingga lebih mudah dalam menerima pelajaran.

Ciri-ciri Anak yang Kurang Fokus

Melatih fokus anak dengan konsentrasi merupakan kemampuan untuk memusatkan perhatian dan pikiran pada satu objek dalam waktu tertentu.

Lama waktu fokus bisa dihitung berdasarkan usia, misalnya anak dengan usia 5 tahun, berarti rentang waktu konsentrasinya maksimal lima menit. Selain itu bisa juga ditentukan oleh banyak faktor, seperti situasi lingkungan, kondisi fisik dan emosi, motivasi, ketertarikan, dan tujuan.

Perlu diketahui, bahwasannya banyak hal atau ciri yang dapat menandakan anak-anak memiliki daya konsentrasi atau fokus yang kurang (minim). Beberapa cirinya antara lain, disorganisi atau kondisi si anak tidak mampu mengorganisir hal atau barang-barang miliknya dengan rapi.

Bisa juga ketika diberikan buku bacaan cerita seperti buku dongeng, si anak tidak tahan membaca hingga kesimpulan atau akhir cerita. Lalu yang terakhir, ketika si anak sedang mengerjakan satu hal dan ada gangguan, maka fokusnya mudah teralihkan.

Selain hal diatas, penyebab sulitnya berkonsentrasi pada anak ketika sedang mengerjakan satu hal juga dapat dipicu oleh beberapa factor:

  • Kelelahan

Rentang waktu belajar 6-10 jam/perhari dapat memicu kelelahan fisik dan pikiran sehingga tidak fokus untuk belajar esok hari. Kelelahan juga bisa berakibat tidak bisa melatih fokus anak.  

  • Adanya gangguan

Faktor ini paling sering terjadi ketika anak sedang proses belajar, entah gangguan dari televisi, anak-anak bermain, hingga gawai.

  • Materi tidak menarik

Faktor ini jarang disadari oleh guru saat sedang mengajar, pola belajar yang fun mungkin bisa jadi solusinya.

Namun, ternyata gangguan konsentrasi atau sulit fokus pada anak ini, bisa juga lho menjadi gangguan atau penyakit yang lebih serius. Penyakit serius tersebut seperti Attention – Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficient Disorder (ADD).

Hal ini tentu harus diwaspadai atau diketahui lebih dini oleh orang tua dan guru, yang berperan langsung dengan perkembangan anak. Sebelum dilanjut, yuk mari mengenal apa itu Attention Deficient Disorder (ADD) dan Attention – Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD).

Pengertian Attention Deficient Disorder (ADD)

Melatih Fokus Anak
Ilustrasi melatih fokus anak – Sumber: parentune.com

Attention Deficient Disorder (ADD) adalah salah satu jenis ADHD yang tidak melibatkan pergerakan yang terus-menerus dan rasa gelisah. Kebanyakan mengira, ADD ini hanya gangguan atau masalah yang timbul pada anak kecil, namun tak jarang juga menyerang orang dewasa.

Gejala-gejala ADD yang perlu diketahui antara lain, kesulitan mempertahankan perhatian pada tugas, mudah terganggu oleh rangsangan dari luar. Selain itu, kesulitan mengikuti arahan dan mengorganisir tugas atau benda juga masuk kedalam bagian gejalanya.

Tapi, jangan khawatir dulu, dalam gangguan Attention Deficient Disorder (ADD) ini juga terdapat beragam sifat-sifat positif. Sifat-sifat tersebut antara lain, antusiasme yang tinggi, kreativitas, intuisi yang kuat, kemampuan melakukan banyak hal sekaligus, hingga kecerdasan yang tinggi.

Beragam kiat-kiat seperti memanfaatkan waktu produktif, olahraga, membuat list, hingga menyingkirkan gangguan bisa dilakukan pengidap ADD agar tenang dan fokus.

Penting diingat, jika gangguan ADD ini membawa masalah negatif dalam kehidupan, disarankan agar melakukan konsultasi ke psikolog atau dokter spesialis.

Pengertian Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD)

Sementara itu, Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan kelainan atau gangguan perkembangan saraf kompleks pada otak.

Gangguan ini dapat berdampak pada kemampuan anak untuk melakukan kontrol diri seperti kekmampuan melatih fokus anak. Hal ini ditandai dengan adanya pola perilaku anak yang cenderung hiperaktif, impulsif, sulit berkonsentrasi dan fokus, dan sulit mengatur emosi.

Data Penyandang Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD)

Faktanya dilapangan menyebutkan bahwa gangguan ADHD ini tidak hanya menyerang anak usia dibawah 16 tahun, namun juga menyerang orang dewasa. Dilansir dalam pusatkemandiriananak.com, sekitar 5% orang dewasa (kurang lebih 11.000.000 orang) di Amerika merupakan penyandang ADHD.

Gangguan ini dapat terjadi pada semua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan dengan berbagai rentang usia, namun sering ditemui pada anak-anak.

Pakar kesehatan membagi gangguan ADHD ini dalam tiga kategori kondisi, yaitu, ADHD kurang perhatian, ADHD impulsif-hiperaktif, dan ADHD gabungan.

Sebelum lanjut dengan pembahasan kategori kondisi Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD), mari tahu lebih dalam mengenai penyebab dari gangguan ini.

Pada dasarnya, orang-orang yang menderita ADHD, tetap memiliki beragam zat kimia atau neurotransmitter seperti dopamin dalam otaknya. Namun sayangnya, zat yang berfungsi membawa sinyal antara saraf yang terkait dengan gerakan ini tidak bekerja dengan baik.

Seperti dilansir dalam tirto.id, WebMD menyebutkan salah satu penyebab utama anak yang menderita ADHD adalah adanya faktor keturunan atau genetika.

Sebesar 30-50% kemungkinan anak akan menderita gangguan Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD) dari orang tuanya. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak lahir prematur, berat badan rendah, hingga yang mengakami cedera kepala pada lobus frontal otak.

Tiga Jenis Kondisi Gangguan ADHD

Kembali dengan kategori kondisi Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD) yang terbagi menjadi tiga, berikut penjelasannya. Pertama, ADHD kurang perhatian, dalam kategori ini kondisi anak tidak memiliki energi lebih atau hiperaktif seperti anak ADHD lainnya.

Beberapa gejala yang dapat terlihat antara lain, sulit memperhatikan, tidak teratur, dan cenderung pelupa. Beragam kesulitan dalam hal mengerjakan tugas, bersosialisasi, hingga menghindari tugas yang banyak juga dapat dikategorikan dalam gejala ADHD kurang perhatian.

Kedua adalah gangguan Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD) yang cenderung impulsif-hiperaktif. Untuk jenis kategori ini, memiliki enam atau lebih gejala hiperaktif-impulsif yang biasanya menyerang anak berusia dibawah 16 tahun.

Anak-anak yang menderita ADHD impulsif-hiperaktif ini cenderung memiliki banyak energi dan sering bergerak. Beberapa gejala yang muncul antara lain, sering mengganggu orang lain, banyak bicara, gelisah, hingga tidak dapat bermain dengan tenang.

Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD) gabungan adalah jenis kondisi yang terakhir. ADHD ini terdiri dari kurang perhatian, impulsif, serta hiperaktif yang dapat ditemui pada anak dengan total enam gejala atau lebih.

Beragam faktor seperti keturunan, cedera otak, bayi lahir prematur, paparan alkohol, rokok, dan racun dapat memicu gangguan ADHD gabungan ini.

Sebenarnya, di Indonesia belum ada metode pemeriksaan yang dapat menentukan diagnosa mengenai gangguan Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADHD) secara spesifik. Tapi, jika mengalami gejala-gejala seperti yang sudah disebutkan diatas, pilihan ke dokter spesialis bisa memberikan jawaban diagnosa yang tepat.

Berdasar pada masalah perkembangan yang dialami oleh anak penderita ADD dan ADHD, tentu pengobatannya juga harus diimbangi dengan asupan makanan. Asupan makanan ini bukan sembarang makanan tapi harus mengandung vitamin dan protein yang dibutuhkan.

Beberapa jenis makanan yang dianjurkan antara lain, buah dan sayur yang kaya akan vitamin dan karbohidrat seperti apel, jeruk, labu. Selain itu, susu yang kaya kalsium, ikan serta telur sebagai sumber protein juga baik dikonsumsi oleh penderita ADD dan ADHD.

Namun, perlu diingat, sejalan dengan makanan yang dianjurkan, ada pula makanan yang perlu dibatasi pemberiannya untuk penderita ADD dan ADHD. Beberapa jenis makanan tersebut yaitu, makanan cepat saji, makanan dengan pemanis buatan, hingga minuman kafein atau bersoda.

Metode dalam Melatih Fokus Anak Balita

Beberapa kasus sulitnya berkonsentrasi atau hilang fokus pada anak sering terjadi di usia 4-6 tahun dalam kegiatan atau proses belajar.

Tentu penanganan atau cara melatih fokus anak dari tiap usia berbeda sesuai dengan kondisi yang dialami. Terdapat tiga cara yang dapat dilakukan untuk melatih fokus anak, terkhusus pada anak balita. Ingin penjelasan lebih lanjut? Yuk simak dibawah!

1. Homework Reward

Cara pertama melatih fokus anak ini berfokus pada pemberian latihan dengan memberikan reward atau hadiah jika berhasil mengerjakan hingga menyelesaikan latihan. Metode ini digunakan sebagai bentuk dorongan kepada si anak untuk fokus yang dikemas secara menyenangkan lewat pemberian hadiah.

Langkah-langkah untuk metode melatih fokus anak ini yaitu, pertama, minta anak untuk duduk dan mengerjakan tugas latihan yang telah dirancang. Lalu, beri reward tiap rentang waktu misalnya 5-10 menit sekali jika si anak tetap fokus pada latihan tugasnya.

2. Visual Tracking Exercise

Metode melatih fokus anak satu ini berbentuk latihan dengan sebuah objek barang yang kaku seperti bola, buku, pensil, hingga boneka. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan dan mengembangkan skill atau keahlian perhatian dari si anak.

Langkah-langkah untuk metode melatih fokus anak ini adalah ajak anak duduk berhadapan, ambil satu jenis barang dan minta si anak fokus pada benda tersebut. Jika sudah fokus, gerakan barang tersebut secara perlahan untuk meningkatkan perhatian dan fokus si anak.

3. Mind Body Integration

Metode mind body integration adalah metode dimana meminta si anak duduk diam di kursi dalam periode waktu tertentu. Metode melatih fokus anak bertujuan untuk meningkatkan dan memperkuat hubungan saraf antara tubuh dan otak, dimana si anak dapat fokus untuk mengendalikan diri.

Langkah-langkah untuk metode ini yaitu, ambil kursi dan taruh di tengah ruangan, ajak anak duduk dan minta untuk tidak berpindah. Catat waktu berapa lama si anak tetap fokus duduk dan lakukan secara rutin untuk hasil yang maksimal.

Namun, selain 3 metode diatas, para orang tua dirumah bisa melakukan kegiatan-kegiatan lain yang berhadapan langsung dengan si anak. Pertama, dengan memberikan mainan fisik untuk melatih fokusnya, misalnya dengan permainan puzzle dan layang-layang.

Selanjutnya, membuat rutinitas harian atau day routine, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, usahakan cantumkan kegiatan yang menyenangkan. Terakhir, lakukan pembatasan pemakaian gawai, dimana akan memberi tahu anak agar bisa membatasi diri dan fokus pada hal-hal produktif lainnya.

Itulah beberapa metode dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh orang tua bersama sang anak untuk melatih konsentrasi sedari dini. Pada dasarnya, kegiatan-kegiatan tersebut berisi kegiatan yang menyenangkan tanpa ada rasa beban yang ditujukan pada anak.

Tips Melatih Fokus Anak Di Sekolah

Tapi, beda usia jelas beda metode melatih fokus anaknya, terlebih untuk anak yang sudah sekolah, metode diatasi kurang cukup efektif diterapkan. Nah berikut ini ada tips untuk melatih fokus anak atau siswa yang mungkin bisa guru terapkan sebagai pendidik di sekolah.

1. Meyakini Kemampuan Murid

Dalam hal ini, sebelum memberikan latihan atau tugas dan menunjuk seseorang untuk mengerjakannya, alangkah baiknya guru memberikan motivasi dan kepercayaan.

Dengan meyakinkan bahwa si anak paham dan dapat mengerjakan tugas, itu akan berdampak positif pada tingkat konsentrasinya. Ya, kepercayaan dan dukungan yang penuh dari guru akan membuat konsentrasi anak bertambah.

2. Memberikan Batas Waktu

Selain memberikan kepercayaan penuh pada murid, sebelum itu guru dapat menjelaskan batas waktu untuk tugas yang diberikan. Misalnya untuk satu tugas matematika atau membuat karangan cerita bahasa Indonesia diberi waktu kurang lebih sepuluh menit.

Penerapan batas waktu ini dinilai akan membantu murid belajar manajemen waktu dan fokus yang lebih tinggi agar tugas dapat terselesaikan.

3. Pendekatan Secara Individu

Untuk metode melatih fokus anak ini, peran guru sangat amat menentukan keberhasilan dimana biasanya murid akan lebih terbuka mengenai hal-hal tentang dirinya. Ini jadi kesempatan bagi guru untuk mengetahui apa saja yang dapat membuat si murid fokus dalam melakukan satu hal.

Setelahnya, hal-hal terkait melatih fokus anak dapat dikelola menjadi kegiatan menarik untuk meningkatkan minat dan konsentrasinya.

Dalam penerapan metode diatas, selain orang tua, para guru punya peranan yang sangat penting dalam membantu meningkatkan konsentrasi belajar. Tapi tetap jangan sampai lupa bahwa sesungguhnya anak-anak membutuhkan hal-hal atau kegiatan menyenangkan dalam proses perkembangan diri.

Hal-hal atau kegiatan tersebut bisa didapat dari beragam permainan seperti yang dilansir dalam enervon.co.id. Kira-kira apa saja coba jenis permainannya?

Jenis Permainan Untuk Melatih Fokus Anak

Permainan pertama  untuk melatih fokus anak adalah Tounge Twister. Permainan ini dapat membantu meningkatkan konsentrasi serta melatih keterampilan berbicara pada anak.

Sebagai orang tua atau guru, cukup berikan kalimat bacaan dan minta si anak untuk mengingat dan melafalkan dengan cepat. Setelah itu, bisa berikan tepuk tangan atau hadiah untuk mengapresiasi kerja keras si anak.

Kedua, Tebak-tebakan. Permainan jenis ini membutuhkan ketelitian sang anak dalam aspek visual atau penglihatan. Cara bermainnya, bisa dengan menebak perubahan apa dari foto pertama dan foto kedua yang berisi penampilan orang tuanya. Jika si anak bisa menebak, ajukan beberapa foto lainnya untuk meningkatkan konsentrasinya.

Ketiga, ada permainan dengan nama Dot to Dot. Permainan melatih fokus anak ini sangat mudah dilakukan, para orang tua hanya perlu membuat beragam gambar dengan pola titik. Cara bermainnya, tunjukan kertas bergambar pola kepada anak, lalu minta untuk diisi sesuai arah atau pola titiknya.

Permainan ini akan membantu anak berkonsentrasi secara penuh karena keingintahuan akan gambar apa yang ada pada kertas.

Terakhir, nama permainannya adalah, satu menit saja! Ya, permainan ini bertujuan untuk melatih konsentrasi anak untuk manajemen waktu atau mengatur waktu. Cara bermainnya sangat mudah dan hanya membutuhkan beragam jenis mainan yang ada dirumah seperti bola.

Dimana, para orang tua bisa mengumpulkan bola warna-warni dalam satu box dan minta anak untuk mengumpulkan bola dengan satu warna.

Itulah beragam metode, tips, dan permainan yang dapat dijadikan jalan untuk melatih konsentrasi anak dan memulihkan fokus yang hilang pada anak. Tentunya, para orang tua dan guru harus saling berkomunikasi dalam penerapannya.

Catat perkembangan anak dan minta saran kepada dokter spesialis untuk hasil yang maksimal. Perhatian jadi kunci nomor satu dalam proses penyembuhan dan pengobatan untuk anak yang hilang fokus hingga menderita ADD atau ADHD.

Tentunya tetap semangat untuk para orang tua dan guru dalam proses melatih fokus anak, yakinlah bahwa tiap anak itu spesial dan berharga apapun kondisinya!

Editted: 16/06/2021 by IDNarmadi.

Shaqina

Love to write and sing, Love to be a good person. Menulis pertama kali di idNarmadi dimulai tanggal 31 Agustus 2019. Topik tulisannya banyak mengulas seputar kolam renang, olahraga renang, aplikasi handphone, medsos, parenting, kehamilan, ide kado, ide nama , belajar menggambar, pendidikan, kesehatan & lainnya

All Post | Website

Leave a Reply

Your email address will not be published.