Efek Samping Vaksin Biofarma Serupa dengan Vaksin Sinovac? Begini Penjelasan Selengkapnya!

Written By Leli Ristiana

Vaksin biofarma ternyata punya beberapa efek samping. Efek Samping Vaksin Biofarma ini ternyata tidak jauh berbeda dibandingkan vaksin Sinovac karena sejatinya keduanya adalah jenis vaksin yang sama.

Lantas, kenapa vaksin Biofarma dikatakan sama atau sejenis dengan vaksin Sinovac? Anda akan mengetahui jawaban lengkapnya pada artikel kali ini.

Selain mengetahui apa saja efek samping vaksin Biofarma, ada pula informasi penting lainnya terkait dengan vaksin Covid-19 yang satu ini.

Vaksin Biofarma Vs Sinovac, Begini Perbedaan dari Keduanya!

Banyak yang masih mempertanyakan keberadaan vaksin Biofarma. Bahkan, ada pula yang menganggapnya sama dengan vaksin Sinovac.

Lantas, apakah benar vaksin yang diproduksi oleh perusahaan Biofarma ini merupakan vaksin Covid-19 yang serupa dengan Sinovac? Begini jawaban selengkapnya.

Vaksin Biofarma dan Sinovac Diproduksi dari Bahan Baku Serupa

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa PT. Biofarma adalah perusahaan farmasi di Indonesia yang ditunjuk atau diberikan kewenangan untuk mendistribusikan vaksin.

Jadi, Biofarma ini juga berkewajiban untuk mendistribuskan vaksin-vaksin virus korona yang masuk ke tanah air.

Selanjutnya, Biofarma juga memproduksi sebuah vaksin untuk Covid-19 yang disebut dengan vaksin Biofarma.

Usut punya usut, ternyata memang benar bahwa vaksin biofarma ini adalah serupa dengan vaksin Sinovac.

Kandungan vaksin Biofarma adalah tak lain vaksin Sinovac itu sendiri. Dengan kata lain, berasal dari bahan baku (bulk) yang sama.

Perbedaan antara Vaksin Biofarma dan Vaksin Sinovac

Efek samping vaksin Biofarma
Perbedaan Biofarma dan Sinovac via cnbcindonesia.com

Bahan baku vaksin Sinovac yang berisi virus inactifated diimpor ke Indonesia untuk selanjutnya dikemas ulang oleh perusahaan Biofarma.

Jadi, pada dasarnya vaksin Biofarma sama dengan Sinovac. Hanya saja pengemasan dan lokasi produksinya berbeda. Dalam hal ini, Sinovac dikemas di China, sedangkan Biofarma di Indonesia.

Lebih jelasnya, inilah rangkuman 3 perbedaan antara vaksin Sinovac dan Biofarma:

1. Perbedaan warna tutup botol

Pada kemasan vaksin Sinovac, tutup botolnya berwarna orange atau jingga, sedangkan keluaran Biofarma tutupnya berwarna biru dongker atau dark navy.

2. Perbedaan nama vaksin

Terdapat perbedaan nama antara Sinovac dengan vaksin Biofarma. Vaksin Sinovac biasa dikenal dengan CoronaVac. sedangkan vaksin daro PT. Biofarma diberi nama Vaksin Covid-19 atau Covid-19 Vaccine.

3. Perbedaan skema kemasan dosis

Meskipun berasal dari bahan baku atau bulk yang sama, namun ada perbedaan kemasan yang cukup mencolok antara keduanya.

Pada vaksin Sinovac, kumpulan vaksin tersebut dikemas dalam dus yang berisikan 40 vial. Masing-masing vial tersebut berisi dosis tunggal dengan volume 5 ml.

Hal ini berbeda dibandingkan kemasan vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh PT. Biofarma.

Pada vaksin Biofarma, vaksin dikemas dalam dus sekunder yang terdiri dari 10 vial dimana masing-masing vialnya ada 10 dosis. Adapun volume dari botol-botol tersebut adalah sama yaitu 5 ml.

Bentuk Perizinan Penggunaan Vaksin Biofarma di Indonesia

Penggunaan vaksin Biofarma tidak lepas dari segala macam bentuk perizinan baik dari pihak badan pengawas kesehatan dunia maupun dari Indonesia.

Perizinan tersebut harus diurus dan dikantongi demi menjamin ketahanan kualitas vaksin Biofarma.

Alasannya, meskipun Biofarma berasal dari bulk Sinovac yang bisa dipastikan kualitas dan keamanannya, tapi isinya dikemas di lab yang berbeda.

Terdapat 2 jenis perizinan terkait dengan produksi dan pendistribusian vaksin yaitu EUL (Emergency Use of Listing ) dan EUA (Emergency Use of Authorization).

Keduanya diterbitkan oleh pihak yang berbeda dimana EUL dikeluarkan oleh WHO, sedangkan EUA dikeluarkan oleh BPOM masing-masing negara.

Teruntuk izin EUL dari WHO, vaksin Sinovac sudah bisa dipastikan telah mendapatkan izin untuk produksi dan distribusi.

Oleh sebab itu, Sinovac dapat didistribusikan secara meluas ke berbagai negara sebagai vaksin Covid-19 yang dikeluarkan dalam kondisi darurat.

Berhubung vaksin Biofarma berasal dari bulk Sinovac, maka izin EUL WHO pun otomatis dikantongi oleh Biofarma.

Terkait izin EUA BPOM Indonesia, Sinovac mendapat izin tanggal 11 Januari 2021, sedangkan izin Biofarma diturunkan pada 16 Februari 2021.

Surat izin tersebut dikeluarkan secara resmi setelah dilakukan sejumlah evaluasi dan pertimbangan khusus oleh Badan POM.

Selain izin EUL dan EUA dari BPOM, Sinovac dan Biofarma juga telah memperoleh fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Gejala KIPI sebagai Efek Samping Vaksin Biofarma

Efek samping vaksin Biofarma
Efek samping vaksin Biofarma via ekonomi.bisnis.com

Sudah dijelaskan di atas bahwa vaksin Biofarma ini memiliki kandungan yang sama dengan Sinovac. Oleh karenanya, gejala pasca vaksinasinya pun hampir sama dengan efek samping vaksin Sinovac.

Perlu Anda ketahui pula bahwa gejala KIPI atau Kejadian Ikutan Paska Imunisasi ini adalah suatu hal yang wajar dan beralasan.

Munculnya efek samping vaksin Biofarma dan Sinovac ini dikarenakan vaksin tersebut merupakan produk farmasi yang masih baru. Selain itu, proses produksinya pun memakan waktu yang relatif singkat.

Untungnya, gejala yang biasanya ditimbulkan biasanya ringan dan hanya terjadi pada sejumlah orang yang memiliki kondisi kesehatan khusus.

Itulah mengapa vaksin Covid-19 hanya diberkan kepada orang-orang yang notabene sehat atau tidak memiliki gangguan kesehatan yang serius.

Untuk lebih jelasnya, apa saja sih efek samping vaksin Biofarma yang mungkin dialami oleh tubuh paska vaksinasi?

Kurang lebih ada 2 macam reaksi atau efek samping vaksin Biofarma yang antara lain:

1. Reaksi di area bekas suntikan

Efek samping vaksin Biofarma yang paling umum dirasakan adalah munculnya reaksi alergi yang terdapat di area bekas injeksi .

Untungnya, efek samping yang satu ini tergolong ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Beberapa tanda-tanda atau gejala munculnya reaksi ini antara lain munculnya rasa nyeri di area tersebut. Terkadang, gejala tersebut disertai dengan pembengkakan, kemerahan (eritema), atau bahkan rasa gatal.

Gejala lainnya yang mungkin saja terjadi adalah indurasi atau pengerasan pada area suntikan yang disebabkan oleh peradangan.

Kulit bekas area suntikkan juga terkadang berubah menjadi putih atau lebih pudar yang disebut dengan discoloration.

2. Reaksi Sistemik

Efek samping vaksin Biofarma lainnya yang sering terjadi paska dilakukan injeksi adalah munculnya reaksi sistemik pada tubuh.

Reaksi sistemik adalah suatu reaksi yang melibatkan sistem metabolisme tubuh sehingga menimbulkan gejala-gejala tertentu.

Beberapa reaksi sistemik tersebut diantaranya sakit kepala, demam, nyeri otot, mual, dan muntah.

Gejala tersebut dapat dirasakan dengan tingkat rasa sakit yang berbeda-beda tergantung kondisi tubuh masing-masing orang.

Pasca vaksinasi, perasaan lemas dan cepat lelah atau fatigue juga kerap kali dikeluhkan.

Oleh sebab itu, untuk memulihkan kembali dari gejala atau efek samping vaksin Biofarma, dibutuhkan banyak beristirahat dan mengkonsumsi makanan bergizi.

Jangan melakukan kegiatan atau aktivitas yang dapat menguras lebih banyak energi agar tubuh bugar kembali.

Baca juga: Kenali Efek Samping Vaksin Moderna dari Gejala Ringan Hingga Langka

Biasanya, efek samping vaksin Biofarma hanya berlangsung dalam 1-2 hari saja. Bahkan, bisa hilang dengan sendirinya tanpa mengkonsumsi obat-obatan.

Sebagai himbauan, meskipun sudah dilakukan vaksinasi, sebaiknya tetap laksanakan protokol kesehatan demi kenyamanan dan keselamatan bersama.

Patuhi selalu setiap aturan yang diberikan oleh pemerintah agar menekan penularan virus Covid-19 hingga akhirnya keadaan kembali normal.

Leave a Comment