Kontraksi Pada Kehamilan: Jenis, Cara Mengatasi

Photo of author
Ditulis oleh Sakinatul Muhimmah

Bagi para ibu yang hamil, kontraksi pada kehamilan, merupakan fenomena biasa yang akan ibu alami, seperti rasa nyeri, tegang di perut.

Pada umumnya, kontraksi terjadi di awal kehamilan, di trimester kedua atau trimester ketiga, bisa juga terjadi menjelang persalinan si ibu.

Namun dapat ada kontraksi pada awal kehamilan bisa dikategorikan biasa dan tidak ada efek negatif pada ibu, bisa juga sebaliknya.

Ini yang perlu ibu ketahui, pada saat itu terjadi sesekali, maka rahim yang berkontraksi menandakan reseptor oksitosin dalam rahim terbentuk. 

Oksitosin itu semacam hormon, fungsinya untuk merangsang kontraksi pada rahim saat proses persalinan, saat reseptor sudah terbentuk, rahim mudah terangsang.

Durasi kontraksi normalnya tidak lama, kurang lebih 10 detik, dan tidak menimbulkan rasa nyeri, biasa terjadi setelah ibu banyak berjalan. 

Bisa juga terjadi setelah melakukan aktifitas-aktifitas yang melelahkan lain nya, dan nyeri pada rahim muncul karena rahim terangsang akibat kelelahan. Bagi ibu, terkadang sulit mengenali, apakah perut kencang yang itu benar-benar merupakan kontraksi atau hanya pergerakan bayi dalam kandungan saja.

Ada juga Ibu hamil sering mengalami kontraksi palsu, ini semacam rahim mengencang lalu mengendur, rasanya seperti kram perut saat menstruasi. Dalam beberapa kasus, kontraksi pada umumnya tidak hanya dialami menjelang persalinan, kondisi ini tak heran heran memicu kekhawatiran bagi ibu.

Apalagi bagi si ibu yang baru pertama kali mengandung, oleh karena itu, ibu disarankan lebih mengenal beberapa jenis kontraksi kehamilan. Kontraksi sendiri dibagi menjadi lima macam yaitu kontraksi dini, kontraksi palsu, kontraksi saat berhubungan intim, kontraksi inersia, dan kontraksi persalinan. 

Baca juga: tambal gigi saat hamil

Tidak Mengalami Kontraksi, Apakah Itu Normal Bagi Ibu Hamil?

Jika tidak ada kontraksi di awal atau pertengahan kehamilan, dapat dikatakan masih dalam kondisi normal, kontraksi juga malah sangat dibutuhkan. Hal ini perlu dialami saat menjelang persalinan, namun bila tak ada kontraksi, ada potensi risiko, yang disebut kehamilan lewat waktu.

Fenomena ini merupakan penanda bahwa, reseptor hormon oksitosin bekerja, namun jika tidak ada kontraksi, berarti reseptor hormon ini tidak bekerja. Secara teknis, kontraksi ini dapat dirangsang dengan bantuan obat infus, namun bila kontraksi tetap tak muncul, maka induksi klinis gagal. 

Angka kejadian ibu hamil yang tidak mengalami kontraksi pada kehamilan, apalagi menjelang persalinan, sangatlah sedikit, jadi disarankan tidak perlu khawatir. Namun ibu juga harus mewaspadai jika kontraksi terjadi selama 1 hingga 2 menit, ini pertanda adanya suatu yang sifatnya patologis.

Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi, dan ini akan mengeluarkan hormon prostaglandin, yang langsung dapat menyebabkan demam dan merangsang kontraksi. Pertanda lainnya seperti gangguan pada janin, atau gangguan kromosom, disini tubuh akan memberikan sinyal bahwa janin tidak dalam kondisi baik.

Masalah kontraksi pada kehamilan ini, khususnya masalah patologis tentu harus, ada penindakan secara cepat oleh ibu, segeralah ke dokter terdekat. Disini biasanya, si dokter akan memeriksa ibu secara seksama, salah-satunya dengan melihat degan teliti serta menghitung, durasi ibu mengalami kontraksi.

Dokter juga akan memastikan ibu, apakah ada atau tidak masalah pada si janin, dengan cara dilakukan tes darah pada ibu. Jika ada, biasanya inkompetensi serviks atau rahim ibu tidak kuat menahan janin, akan dilakukan penguatan dengan menggunakan obat atau operasi.

Baca juga: masalah kulit ibu hamil

Kontraksi Sungguhan Pada Kehamilan

Jenis kontraksi pada kehamilan ini, biasanya terjadi menjelang persalinan, memasuki kehamilan 36 minggu, janin turun ke tulang panggul lebih dalam. Dan mendorong, timbul nya desakan di kandung kemih, panggul dan bahkan vagina, di mana si Ibu sudah waktunya untuk melahirkan.

Hal ini biasanya berlangsung 3 kali dalam 10 menit dengan durasi 20 sampai 40 detik, dan frekuensi nya pun meningkat. Peningkatan hingga lebih dari 5 kali dalam 10 menit, disertai keluarnya lendir bercampur darah, pecahnya ketuban, serta dorongan ingin mengejan. 

Namun jika ibu masih ragu, apakah ini kontraksi sungguhan, cobalah berendam di air hangat, kontraksi sungguhan menguat di air hangat. Sebagai aternatif lain, Ibu bisa segera melakukan pemeriksaan ke bidan atau pun dokter terdekat, pastikan kapan dimulainya proses persalinan dimulai.

Jangan lupa juga mencatat historis kapan kontraksi itu bermula dan berakhir, serta seberapa kuat dan di bagian tubuh yang mana. Hal ini bermaksud untuk menilai kemajuan persalinan, tapi sekali lagi, jika Ibu masih merasa ragu, maka jangan ragu menghubungi dokter.

Kontraksi Palsu Pada Kehamilan

Kontraksi palsu pada kehamilan
Kontraksi Pada Kehamilan via kiblatmuslimah.com

Kontraksi pada kehamilan ini disebut juga dengan braxton-hicks, kontraksi ini cenderung terjadi pada saat kehamilan saat memasuki usia 32-34 minggu. Biasanya kontraksi ini berlangsung selama 30 menit sekali, dengan durasi kurang lebih 30 detik, Ibu akan merasakan seperti nyeri kram.

Namun, jika berlangsung lama, dan intervalnya memendek, kemudian tidak bertambah kuat, ini menandakan persalinan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Atasi ini dengan berendam di air hangat agar reda, tapi bila interval semakin pendek, bisa berarti persalinan akan segera berlangsung.

Baca juga: Masuk angin pada ibu hamil

Kontraksi Pada Kehamilan Paska Berhubungan Seksual

Hubungan seksual merupakan hasrat natural bagi sang suami maupun ibu, namun salah-satu penyebab terjadinya kontraksi, bisa dikarenakan dengan berhubungan seksual. Disarankan untuk ibu dan suami, untuk tidak melakukan hubungan itu, saat ibu sedang hamil muda, maupun pada saat hamil tua.

Hal ini untuk mencegah ibu dari efek negatif, seperti keguguran atau bahkan lahir prematur, walaupun penerapan pencegahan ini merupakan tantangan.

Di karenakan sperma mengandung hormon prostaglandin, dapat menyebabkan kontraksi pada rahim, dikhawatirkan memicu kejadian abortus atau keguguran, atau persalinan premature.

Muncul pertanyaan, apakah memang benar ada solusi untuk menanggulangi hasrat seksual ibu dan sang suami? Atau apa mungkin harus berpuasa?

Tantangan ini tentu dapat ditanggulangi, dengan cara aktifitas senggama secara terputus, bahasa latin nya coitus interuptus, dan memakai pengaman kondom.

Sekali lagi, jika ibu dan sang suami masih ragu, kembali lagi untuk konsultasikan ini ini dengan dokter, apakah itu berisiko. Disini biasanya, dokter akan menanyakan seputar riwayat keguguran, riwayat persalinan prematur, riwayat pendarahan vagina, mulut rahim yang lemah, dan lainnya.

Kontraksi Inersia Pada Kehamilan 

Kontraksi inersia ini semacam kontraksi proses persalinan cenderung lemah, pendek, atau tidak sesuai fase, karena ada faktor kelainan fisik Ibu. Faktor tersebut bisa jadi, karena kurangnya nutrisi dan gizi saat ibu hamil, ada juga anemia, hepatitis maupun TBC dan miom.

Kontraksi pada kehamilan ini ada dua macam, primer dan sekunder, khusus primer saat sama sekali tidak terjadi kontraksi awal persalinan. Berbeda dengan sekunder, kontraksi yang awalnya bagus, kuat dan teratur tetapi setelah itu menghilang, ini dilihat melalui evaluasi pembukaan rahim.

Kontraksi Dini Pada Kehamilan

Kontraksi dini - kontraksi pada kehamilan
Kontraksi Pada Kehamilan via halodoc.com

Pada umumnya, kontraksi pada kehamilan jenis ini, cenderung terjadi saat awal kehamilan, bisa juga terjadi pada trimester pertama kehamilan ibu. Fenomena ini terjadi saat tubuh ibu masih sedang dalam proses tahap penyesuaian, diikuti berbagai perubahan bagian tubuh lain saat hamil.

Faktor lain penyebab kontraksi pada kehamilan, itu terjadi karena meregangnya jaringan ikat di sekitar rahim ibu, diikuti oleh perut kembung, sembelit, dan kekurangan cairan. Pada kondisi seperti ini, ibu disarankan jangan menggangap remeh, saat kontraksi ritmenya yang menetap, diikuti dengan adanya bercak di tubuh. 

Pada umumnya, ibu hamil yang mengalami kontraksi, yang namanya perut mengencang serta keras, khususnya pada saat menjelang persalinan sang ibu. Kontraksi pada kehamilan ini, pertanda, agar mempersiapkan perlengkapan ibu setelah melahirkan.

Namun sesuai penjelasan terperinci di atas, ada juga bukan pertanda demikian. Sangat disarankan agar ibu mengenali jenis-jenis kontraksi yang di jelaskan di atas, dan diharapkan ibu bisa mengantisipasi persiapan bersalin nantinya.

Namun jika ibu merasa ada pertanda bahaya yang mengancam bagi kehamilan, dengan kontraksi yang ibu alami, segeralah periksakan ke dokter. 

Editted: 25/06/2021 by IDNarmadi.

Leave a Comment