18 Dampak Psikologis Anak Broken Home & Cirinya

Broken home merupakan situasi pada saat terjadi keretakan di dalam keluarga yang akhirnya berpisah. Keretakan tersebut bisa dipicu karena KDRT, bertengkar sampai perceraian.

Tidak hanya orang tua yang terkena dampak, namun psikologis anak broken home juga bisa terjadi. Peneliti di sebuah universitas mengatakan jika efek yang ditimbulkan dari keluarga tidak harmonis bisa berbeda-beda.

Ini semua tergantung dari usia anak pada saat orang tua bercerai, hubungan dalam keluarga dan juga dari kepribadian anak.

Mungkin tanpa disadari, pertengkaran orang tua yang didengar bisa melukai anak. Jika ini terjadi terus, maka akan berpengaruh antara anak dengan orang sekitarnya.

Balita serta anak yang masih kecil memang mungkin tidak terlalu merasakan efek negatif. Akan tetapi untuk anak yang sudah sekolah atau remaja nantinya akan mengalami dampak psikologis anak broken home. Dari mulai masalah emosional, fungsi sosial sampai ke pendidikan.

Ciri-ciri Anak Broken Home

Broken home adalah kondisi ketika sebuah keluarga terpecah serta struktur peran dari orang tua terputus dan tidak peran tidak dijalankan.

Pengertian dari broken home sendiri juga bisa terlihat dari 2 aspek yakni karena struktur keluarga yang tidak utuh akibat perceraian.

Sedangkan yang kedua adalah orang tua tidak bercerai namun salah satunya meninggalkan rumah atau tidak memberikan kasih sayang.

Keluarga broken home bisa dilihat dari beberapa ciri, seperti:

  • Kedua orang tua yang berpisah atau bercerai.
  • Hubungan kedua orang tua sudah tidak harmonis atau tidak baik.
  • Orang tua tidak memberikan kasih sayang dan perhatian pada anak.
  • Orang tua sering pergi meninggalkan rumah.
  • Suasana rumah yang sudah tidak lagi harmonis.
  • Salah satu dari orang tua meninggal dunia.
  • Orang tua sering bertengkar.

Dampak Psikologis Anak Broken Home

Psikologis Anak Broken Home
Ilustrasi – psikologis anak broken home – Sumber: lifestyle.okezone.com

1. Anak Akan Susah Bergaul

Dampak psikologis anak broken home yang pertama adalah akan membuat anak susah untuk bergaul akibat tidak percaya diri atau malu. Anak nantinya akan sering menyendiri dan tidak mau bergaul karena rendah diri.

Tidak mendapat perhatian dan kurang banyak menghabiskan waktu dengan keluarga dan tidak punya cerita tentang keluarga menjadi beberapa akibatnya. Inilah gambaran psikologis anak broken home yang pertama.

Baca: Cara meningkatkan keterampilan sosial anak

2. Tidak Kuat Iman

Dampak psikologis anak broken home selanjutnya adalah tidak kuat dalam iman. Dalam psikologis agama disebutkan jika orang tua menjadi salah satu faktor utama dari baik buruknya iman anak.

Orang tua sudah seharusnya menjadi sekolah agama pertama untuk anak hingga dewasa agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Namun untuk anak broken home akan berdampaj sebaliknya yakni semakin jauh dari iman atau agama.

3. Merasa Kurang Kasih Sayang

Broken home ternyata juga bisa membuat anak tidak memperoleh hal dalam hal cinta dan kasih sayang khususnya dari orang tua.

Ini nantinya bisa membuat anak memiliki sifat yang brutal karena ingin mencari perhatian. Bahkan, orang tua juga bisa sampai tidak memperhatikan kebutuhan gizi anak dan akhirnya juga berpengaruh pada sekolahnya.

4. Menjadi Anak yang Pemalu

Rendah diri, malu dan tidak terlalu memiliki keterampilan sosial juga menjadi dampak psikologis anak broken home. Ini biasanya lebih sering terjadi pada anak yang memiliki orang tua bercerai. Setelah orang tua bercerai, maka tingkat kenyamanan pada anak juga ikut terpengaruh.

Perubahan drastis tersebut bisa menyebabkan anak menarik diri dari dunia luar. Untuk itu sebagai orang tua, sudah seharusnya bisa merangkul anak. Sebenarnya menjadi anak pemalu masih normal, namun jika berlebihan maka bisa berpengaruh pada kehidupan anak.

5. Tidak Percaya Diri

Memiliki perasaan malu dan kurang rasa percaya diri biasanya hampir beriringan. Akibat dari tidak percaya diri dan malu, maka anak akan lebih senang menyendiri dan tidak ingin berhubungan sosial. Ini terjadi sebab anak menyalahkan diri sendiri karena perpisahan orang tua.

Baca: Agar anak berani dan percaya diri

Yang awalnya semua berjalan baik, namun karena perpisahan membuat semua kebahagiaan anak berakhir. Anak merasa tidak lagi puas dengan hidup sebab semuanya tidak lagi berjalan lancar. Anak nantinya juga kurang atau bahkan tidak berkontribusi serta tidak mau bersosialisasi.

6. Menyebabkan Depresi

Depresi kronis merupakan gangguan kesehatan mental serius dan bisa menyebabkan efek lainnya. Perceraian serta keluarga broken home nantinya bisa menimbulkan efek traumatis yang mendalam pada anak.

Depresi tersebut kemudian bisa berpengaruh pada cara anak bersosialisasi, berteman serta berinteraksi dengan orang lain. Depresi tidak hanya bisa terjadi karena perceraian namun juga karena pola asuh orang tua yang salah.

Baca: Penyebab, gejala, cara mengatasi depresi anak

7. Memiliki Keinginan Bunuh Diri

Salah satu dampak buruk psikologis anak broken home adalah memiliki keinginan untuk bunuh diri. Memang bisa dikatakan jika kasusnya masih langka namun bukan tidak mungkin bisa terjadi. Pikiran seperti ini bisa muncul karena depresi membuat segala hal dalam kehidupan anak jadi menurun.

8. Menurunnya Performa Akademik Anak

Psikologis Anak Broken Home
Ilustrasi psikologis anak broken home – Sumber: riliv.co

Anak usia sekolah yang memiliki keluarga broken home juga bisa merasakan dampak negatif yakni menurunnya performa di akademik. Anak nantinya akan semakin sulit untuk fokus akibat masalah yang harus dihadapi di rumah. Pikiran anak bisa kacau ditambah dengan rasa khawatir, perasaan negatif serta cemas.

9. Anak Berperilaku Negatif

Dampak psikologis anak broken home selanjutnya yang bisa terjadi adalah perilaku anak yang berubah. Anak nantinya akan memperlihatkan kesusahan yang dirasakan tentang keluarga yang telah hancur dengan bertingkah agresif.

Selain itu, anak juga bisa melakukan penindasan yang semuanya bisa berdampak negatif untuk hubungan pertemanan. Bahkan, anak broken home juga bisa memiliki sikap sinis pada hubungan serta memiliki rasa tidak percaya.

10. Menyebabkan Perilaku Antisosial

Anak laki-laki yang berasal dari keluarga broken home biasanya akan menunjukkan perilaku yang mengamuk. Anak juga bisa tidak patuh serta kasar pada orang tua dan orang lain yang ada di sekitar.

Ini dilakukan anak sebagai cara menunjukkan emosi yang bahkan bisa berkembang menjadi tidak taat pada otoritas atau aturan. Ini tentunya bisa berdampak negatif untuk kehidupan anak. Jika tidak segera dihentikan, maka bisa berkembang dan menjadi masalah seumur hidup.

11. Terlihat Sedih Terus Menerus

Ketika anak sadar ada perpecahan di dalam keluarga, maka tentunya akan membuat hati anak menjadi sedih. Ini disebabkan karena anak sadar jika semua yang telah dilalui keluarganya telah hancur begitu saja. Selain itu, anak juga sadar jika kenangan indah bersama keluarga juga tidak bisa diulang kembali.

12. Anak Bersikap Posesif

Dampak psikologis anak broken home berikutnya adalah membuat anak bersikap lebih posesif. Sikap posesif ini akan ditunjukkan pada lingkungan percintaan anak dan juga pertemanan.

Ini bisa terjadi sebab emosional anak broken home merindukan kasih sayang yang tidak bisa diperoleh dari keluarga. Ditambah lagi, anak broken home juga biasanya mempunyai rasa cemburu yang terlalu berlebihan pada orang sekitarnya.

13. Sering Menyalahkan Diri Sendiri

Sering menyalahkan diri sendiri merupakan dampak psikologis anak broken home. Akibat masalah yang terjadi di keluarga, maka anak broken home sering merasa jika dirinya yang menjadi penyebab dari perpisahan orang tua.

Meski sebenarnya, hal ini tidaklah benar. Apabila anak terus menerus menyalahkan diri sendiri, maka kesehatan mentalnya bisa terdampak.

14. Tidak Memiliki Identitas Diri

Dampak psikologis dari broken home pada anak juga bisa menyebabkan anak tidak punya identitas diri. Biasanya, mental anak broken home lebih lemah dan merasa jika hidupnya tidak seberuntung orang lain. Inilah yang membuat anak broken home semakin mudah depresi, merasa jika dirinya tidak berharga.

15. Memiliki Masalah Emosional

Perceraian orang tua tentunya bisa melukai anak-anak khususnya jika anak sudah bersekolah atau remaja. Emosi anak masih labil serta meluap-luap yang membuat anak broken home lebih sulit menahan emosi.

Bahkan anak broken home biasanya akan secara terang-terangan memperlihatkan rasa tidak suka dan berlaku anarkis seperti kasar, berteriak dan sebagainya.

Dampak psikologis anak broken home juga semakin rentang pada stres serta depresi yakni kondisi emosional jangka panjang.

Bahkan, masalah emosional ini juga masih terus terjadi beberapa tahun sesudah perceraian orang tua. Sementara untuk anak yang lebih dewasa kemungkinan tidak terlalu bereaksi secara emosional ketika menghadapi perpisahan orang tua.

Meski anak terlihat seperti baik-baik saja, namun anak yang lebih dewasa juga masih memiliki perasaan negatif di dalam diri. Penekanan emosional tersebut nantinya bisa membuat orang lain sulit untuk membantu anak memproses perasaan dengan baik.

Dalam sebuah studi menunjukkan jika kasus bunuh diri anak broken home lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari keluarga harmonis. Para peneliti beranggapan jika hal ini dipicu karena penolahan anak pada sikap yang diambil orang tua.

16. Memiliki Masalah Sosial

Psikologis anak broken home akan memiliki masalah sosial kedepannya. Keluarga yang mengalami perpecahan nantinya bisa berpengaruh pada hubungan sosial anak serta lingkungan sekitar.

Kemungkinan, anak akan melepaskan rasa gelisah dengan cara bertindak agresif bahkan melakukan penindasan atau bullying. Anak juga mungkin akan mengalami masalah lain seperti cemas berlebihan.

Rasa cemas tersebut nantinya bisa membuat anak susah untuk berinteraksi sosial secara positif. Anak juga akan sulit untuk terlibat pada kegiatan pengembangan diri yang berguna seperti contohnya olahraga.

Anak yang terganggu psikologisnya akibat broken home bahkan juga sering bersikap sinis dan tidak percaya di suatu hubungan.

17. Memiliki Masalah Dinamika Keluarga

Psikologis anak broken home akan memiliki masalah dinamika keluarga. Sebenarnya, perceraian tidak hanya mengubah dari segi struktur keluarga, akan tetapi juga dinamika.

Meski perceraian dilakukan secara damai, namun nantinya tetap menghasilkan 2 rumah tangga baru yang akan mengubah peran keluarga dan interaksinya. Dari rumah tangga baru tersebut, maka anak mungkin harus mendapatkan peran atau tugas tambahan yang harus dilakukan.

Dalam keluarga yang sudah bercerai, maka biasanya anak sulung sering berperan sebagai orang tua untuk adik-adinya. Ini disebabkan karena orang tua yang sibuk bekerja atau memang sudah tidak bisa ada di sekitar mereka seperti sebelum perceraian.

Di beberapa kasus, anak broken home usia remaja kemungkinan akan punya hubungan yang buruk dengan orang tua hingga 2 kali lebih besar.

Bahkan pada penelitian berbeda juga ditemukan jika anak broken home biasanya tidak akan patuh pada orang tua. Selain itu sebuah studi juga dipublikasikan pada American Sociological Association juga sudah dilakukan. Ditemukan jika efek perceraian tidak hanya dirasakan pada hari itu, namun juga untuk jangka waktu yang lama.

18. Anak Sering Berperilaku Kasar

Kemungkinan besar anak broken home juga punya pengalaman buruk atau trauma. Hal tersebut akan membuat anak berperilaku seperti orang tua. Sikap kasar nantinya menjadi salah satu sifat dari anak yang biasanya dilakukan karena mencontoh dari orang tua.

Bisa dikatakan jika mempertahankan hubungan rumah tangga yang harmonis memang tidak mudah dilakukan. Akan tetapi, pasangan yang sudah menikah memang harus bisa memperhatikan psikologis anak broken home.

Hal yang paling harus dihindari adalah jangan sampai perpecahan dalam keluarga sampai merusak kesehatan mental anak. Semua ini nantinya bisa berdampah pada kehidupan anak bahkan bisa mengganggu kehidupan anak seumur hidup.

Editted: 16/06/2021 by IDNarmadi.

Leave a Comment