Polihidramnion pada Janin: Deteksi Gejalanya Sejak Dini

Sebagian besar polihidramnion pada janin terjadi di minggu ke-16 hingga ke-17 masa kehamilan. Polihidramnion yang terjadi pada masa kehamilan dini memiliki potensi untuk munculnya risiko komplikasi yang serius.

Polihidramnion merupakan sekumpulan cairan ketuban dengan jumlah yang berlebihan yang mengelilingi janin selama masa kehamilan. Nah, sebenarnya apa penyebab dari polihidramnion pada janin? Berikut ini penjelasan lebih detailnya dan tips untuk mencegah terjadinya polihidramnion.

Apa itu Polihidramnion pada Janin?

Polihidramnion pada Janin
Polihidramnion pada Janin Via medicalnewstoday.com

Polihidramnion merupakan penumpukan air ketuban yang berlebihan selama proses kehamilan. Walaupun kondisi tersebut biasa terjadi, namun tetap membutuhkan pemantauan secara rutin supaya terhindari dari kemungkinan komplikasi.

Air ketuban adalah cairan yang mengelilingi janin selama berada di dalam kandungan. Air ketuban sangatlah berguna untuk menjaga maupun membantu perkembangan janin. Seperti membantu pertumbuhan otot, tulang, maupun paru-paru.

Hal tersebut berfungsi sebagai pelindung dari tekanan di luar rahim, serta mempertahankan suhu yang hangat untuk janin. Namun, cairan ketuban yang jumlahnya berlebihan maupun kekurangan tidaklah efektif.

Polihidramnion umumnya terjadi pada saat trimester ketiga, namun tetapi dapat terjadi pada trimester awal maupun kedua masa kehamilan. Jadi, anda harus memperhatikan tanda dan gejala sejak dini supaya dapat melakukan tindakan pengobatan secara tepat.

Penyebab Polihidramnion pada Janin

Polihidramnion pada Janin
Penyebab Polihidramnion pada Janin Via momjunction.com

Pada kondisi normal, volume air ketuban akan mengalami peningkatan dan mencapai kuantitas maksimal sekitar 1 liter pad aminggu ke-34 sampai ke-36 kehamilan. Namun, air ketuban akan perlahan berkurang sekitar setengah liter saat mendekati waktu persalinan.

Jika terjadi polihidramnion pada janin, volume air ketuban dapat meningkat dengan sangat cepat mencapai 2 liter hingga 3 liter. Janin memiliki peran dalam mengendalikan volume air ketuban dengan cara menelan dan mengeluarkan sebagai urine.

Saat keseimbangan air tuban terganggu, maka polihidramnion pada janin dapat terjadi. Contohnya ketika produksi air ketuban yang berlebih dan tidak diimbangi dengan kemampuan janin untuk menelannya.

Nah, secara pastinya hingga saat ini belum apat dipastikan penyebab polihidramnion. Namun menurut para ahli medis menduga bahwa faktor berikut ini dapat mempertinggi risiko polihidramnion:

  • Hamil anak kembar maupun lebih
  • Ibu hamil yang memiliki diabetes, termasuk diabetes yang disebabkan oleh kehamilan
  • Penyumbatan yang terjadi pada usus bayi
  • Permasalahan dengan plasenta
  • Sel darah janin diserang oleh sel darah ibu hamil
  • Penumpukan cairan pada janin
  • Permasalahan genetik pada janin
  • Mengalami infeksi saat kehamilan
  • Anemia pada janin

Banyak bayi dengan ibu yang mengalami polihidramnion, namun dapat terlahir dengan selamat dan sehat. Yang paling utama yaitu selalu konsultasi dengan dokter.

Tanda dan Gejala yang Dialami Polihidramnion pada Janin

Gejala polihidramnion biasanya berasal dari tekanan yang ditimbulkan dari dalam rahim menuju organ terdekat. Polihidramnion yang bersifat ringan biasanya tidak menyebabkan gejala apapun.

Sedangkan untuk polihidramnion yang sudah parah, dapat menyebabkan berbagai gejala, diantaranya:

  • Sesak nafas ataupun sulit untuk bernafas
  • Sensasi panas seperti terbakar pada area dada
  • Bagian tubuh bagian bawah yang membengkak, contohnya kaki
  • Penurunan produksi urine
  • Sembelit
  • Perut terasa sangat besar dan sangat kencang
  • Bayi dalam posisi sungsang
  • Pembengkakan pada vulva atau bagian luar vagina.

Gejala di atas mungkin umum dialami oleh wanita hamil dan tidak selalu polihidramnion sebagai pemicunya. Maka dari itu, anda harus melakukan konsultasi ke dokter jika mengalami gejala tersebut.

Cara Mendiagnosis Polihidramnion pada Janin

Polihidramnion pada Janin
Cara Mendiagnosis Polihidramnion pada Janin Via healthline.com

Dokter akan melakukan ultrasound (USG) terhadap janin jika mencurigai adanya polihidramnion pada janin. Jika USG menunjukkan hasil adanya polihidramnion, maka akan dilakukan jenis USG yang lebih detail.

Dokter akan mengukur kantong cairan terbesar dan paling dalam di sekitar bayi untuk memperkirakan jumlah cairan amnion yang ada di dalam rahim. Jika nilai cairan amnion berukuran 8 cm ataupun lebih, maka menunjukkan adanya polihidramnion.

Cara lain yang dapat anda lakukan untuk mengukur cairan amnion yaitu dengan mengukur kantong besar pada empat bagian spesifik dari rahim. Jumlah pengukuran tersebut merupakan indeks cairan amnion (the amniotic fluid index-AFI).

Jika indeks cairan amnion berada pada angka 25 cm ataupun lebih. Hal ini menunjukkan adanya polihidramnion pada janin. Dokter akan menggunakan USG yang lebih detail utuk mendiagnosis maupun menyingkirkan cacat lahir dan komplikasi lainnya.

Nah, berikut ini jenis pemeriksaan tambahan yang dapat anda lakukan untuk mendiagnosis adanya polihidramnion pada janin:

1. Tes Darah

Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk mendeteksi ada atau tidak adanya infeksi yang berhubungan dengan polihidramnion pada janin.

2. Amnicentesis

Amniocentesis merupakan prosedur dengan menggunakan sampel dari cairan ketuban yang diambil dari rahim untuk diperiksa. Termasuk dalam analisis kariotipe yang digunakan untuk mengetahui ketidaknormalan pada kromosom janin.

Komplikasi Polihidramnion pada Janin

Polihidramnion pada janin dapat menyebabkan berbagai macam koplikasi jika tidak segera beri penanganan. Nah, berikut ini beberapa komplikasi yang dapat terjadi:

  • Kelahiran bayi secara prematur
  • Pecah ketuban dini
  • Solusio placenta yaitu lepasnya plasenta sebelum proses persalinan terjadi dari dinding bagian dalam rahim
  • Prolapse tali pusar yaitu tali pusar mendahului kepala janin di leher rahim atau bahkan di vagina anda
  • Melahirkan melalu operasi caesar
  • Bayi lahir meninggal
  • Perdarahan berat karena kurangnya tonus otot rahim saat proses persalinan.

Semakin dini polihidramnion pada janin terjadi, maka semakin banyak pula jumlah air ketuban. Hal ini akan mengakibatkan risiko komplikasi juga semakin tinggi.

Cara Mengatasi Polihidramnion pada Janin

Polihidramnion pada Janin
Cara Mengatasi Polihidramnion pada Janin Via parenting.com

Cara mengobati polihidramnion pada janin yaitu berdasarkan dengan tingkat keparahannya. Untuk kasus polihidramnion ringan umumnya akan sembuh dengan sendirinya dan jarang memerlukan pengobatan ataupun perawatan yang intensif.

Namun jika ibu hamil membutuhkan perawatan di rumah sakit karena gejala yang dialami cukup parah. Maka perawatan yang dilakukan antara lain adalah:

1. Mengeluarkan Cairan Ketuban yang Berlebihan

Untuk mengeluarkan cairan ketuban yang berlebihan di dalam rahim, dokter umumnya akan menggunakan amniosentesis. Namun, prosedur ini memiliki berbagai risiko dari komplikasi. Seperti halnya kelahiran prematur, solusio plasneta, dan juga pecah ketuban dini.

2. Prosedur Ablasi Laser

Pengobatan ini dilakukan jika memiliki sindrom tranfusi bayi kembar.

3. Obat-Obatan

Cara menangani polihidramnion pada janin yaitu dengan mengonsumsi obat indomethacin oral untuk membantu dalam mengurangi produksi urine oleh janin dan volume cairan ketuban.

Namun, obat tersebut tidak direkomendasikan pada kehamilan di bawah 31 minggu. Setelah melakukan perawatan tersebut, dokter akan memantau setiap 1 hingga 3 hinggu untuk memastikan kadar cairan ketuban.

Cara Mecegah Polihidramnion pada Janin

Dikarenaka penyebab dan pengobatan polihidramnion pada janin secara pasti belum diketahui. Namun, anda dapat melakukan hal berikut ini untuk mencegah terjadinya polihidramnion, yaitu:

  • Menerapkan pola hidup sehat dengan banyak makan sehat selama hamil. Makanan yang bergizi berguna untuk menjaga daya tahan tubuh supaya tidak mudah terserang infeksi.
  • Minum air putih secara rutin minimal 8 gelas ataupun setara dengan 2 liter setiap harinya.
  • Rutin melakukan olahraga ringan untuk melancarkan pembuluh darah.
  • Rutin melakukan konsultasi dan pemeriksaan ke dokter kandungan.

Demikian penjelasan mengenai polihidramnion pada janin. Anda dapat melakukan berbagai cara untuk mengatasinya supaya terhindar dari komplikasi dan bayi dapat lahir dengan sehat.

Sebagian besar kasus polihidramnion pada janin terjadi pada minggu ke-16 hingga ke-17 masa kehamilan. Polihidramnion yang terjadi lebih dini semakin berpotensi memicu adanya risiko yang serius. Maka dari itu, kenalilah tanda dan gejala dari polihidramnion sejak dini.


Comment